Right After 'The Da Vinci Code'

Senin, 28 Juli 2014

"Artinya, sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Ketika dua kebudayaan berbenturan, yang kalah dihapuskan dan yang menang menulis buku-buku sejarah—buku-buku yang memuliakan perjuangan mereka sendiri dan meremehkan musuh yang tertaklukkan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Napoleon, ‘Apakah sejarah, selain dongeng yang disetujui?’ Berdasarkan sifatnya, sejarah selalu merupakan catatan dari satu sisi."

--Tokoh Leigh Teabing dalam novel karya Dan Brown, The Da Vinci Code.


Ah, aku harusnya belajar lebih serius di pelajaran Sejarah waktu SMA. Sepertinya hal-hal seperti ini banyak dibahas di bab-bab awal Sejarah kelas X. Sifat sejarah, fungsi sejarah, sumber-sumber sejarah, dan yah, maaf karena memoriku tertimbun sejarah pembentukan sel darah merah (yang juga penting).


Dulu aku memandang sejarah sambil lalu, sambil memikirkan Gerak Melingkar Berubah Beraturan yang lebih ditekankan oleh sekolah. Oke, aku tahu sejarah itu penting, sejarah itu seperti perjalanan hidup, tapi ya cuma seperti itu.


Dulu belum terpikir bahwa hidup ini seperti suatu siklus, apa yang terjadi sekarang mungkin sudah pernah terjadi di masa lalu. Rabies membuktikan. Sebagai re-emerging disease, dia ada, lalu hilang, tetapi muncul lagi. Atau siklus Polybius yang pernah diajarkan di kelas XII, yang menyatakan sifat kepemimpinan akan berputar dari monarki, tirani, aristrokrasi, oligarki, demokrasi, oklokrasi, lalu kembali ke monarki lagi. Sejarah berulang.


Dulu belum terpikir juga bahwa sejarah bisa diubah oleh sekelompok orang berkepentingan. Mengubah yang benar, atau menyembunyikan yang benar. Ini terjadi kok pada sejarah kesultanan Ustmani yang sangat berjaya di masa lalu (walaupun akhirnya kolaps). Sewaktu sekolah, seingatku hanya ada kisah tentang zaman prasejarah, lalu lompat ke masa Hindu-Budha. Bahkan ketika membahas masa Islam, sama sekali tidak disinggung tentang Ustmani. Walaupun tidak mendetail, malah sempat dibahas tentang Revolusi Industri. Lalu yang aku ingat hanya kisah-kisah perang dunia, kolonialisme di Indonesia, dan ya masuk ke orde lama-orde baru. Kalau tidak diceritakan oleh seorang ketua Rohis yang kebetulan sekelas dan maniak Ustmani, mungkin aku tidak tahu Eropa pernah masuk abad kegelapan.


Oke, sekarang aku bisa memahami perasaan guru Sejarahku yang sangat sensitif dengan kelakuan anak-anak IPA waktu itu. Anak-anak yang bertingkah seolah-olah kasta mereka lebih tinggi. Padahal ya biasa aja.


Aku berdoa semoga adik-adikku yang masih di bangku sekolah mendapat trigger untuk mempelajari Sejarah dengan serius. Mengapa? Yah, yakinlah ketika mereka masuk sekolah yang berhubungan dengan IPA, mereka butuh kemauan dan kerja agak keras untuk mendapatkan kuliah Sejarah.


(No, science is still my passion (yeah, at least my motoric cortex force me to write so). I just want to look at the other side for a while. It is human that makes science seems interesting, right?)


Already posted on my Tumblr
anggivish.tumblr.com

Seperti Itulah

Bayangkan kamu punya suatu barang. Kamu punya andil dalam pembuatan barang tersebut. Bayangkan barang itu adalah kreasimu, hasil pemikiran dari inspirasi-inspirasi yang datang padamu, dan dapat mengungkapkan apa yang kamu inginkan sebenarnya. Bagaimana rasanya? Bangga bukan? Hal itu akan terus merasuk di pikiranmu bahwa jerih payahmu menghasilkan sesuatu yang nyata. Entah bagaimana kata orang, baik ataupun buruk, tidaklah mengubah fakta bahwa barang itu adalah milikmu.

Bayangkan juga kamu dapat hidup dalam usia yang panjaaaaaaaaaang, sehingga dapat melihat bentuk selanjutnya dari kreasimu di masa depan. Walaupun banyak usulan membangun dan memodifikasi hasil karyamu sesuai dinamika waktu, karyamu tetap menjadi karyamu. Seyogjanya kamu tidak akan lupa. Seharusnya semangat itu akan terus ada ketika kamu berjumpa dengannya. Kamu bisa mengapresiasi lebih dari orang lain karena itu milikmu, sesuai dengan jiwa yang terbentuk di dalam tubuhmu, dan yang paling penting, kamu mengerti dan memahami.

Seperti itulah budayamu, kawan. Cobalah mengerti budaya-budaya luhur bangsamu karena itu lah milikmu. Percayalah jika kamu mau, memahaminya tidak akan butuh waktu lama. Jiwa itu sudah tertanam, sesuai dengan pondasi berpikir kita. Cobalah buka hati dan pikiran untuk apa yang menjadi milik kita. Ingat, milik kita, milik kita, milik kita. Bukalah untuk apa yang menjadi milik kita.

Ya, seperti itulah…

Pahamilah bahwa dibalik dua jam sendratari tidak hanya ada penari-penari. Lihatlah bagaimana cara mereka menyampaikan, membuat kita mengerti melalui keindahan, cara mereka berjuang, membuat tiap hembusan napas mempunyai arti, dan yang terpenting menunjukkan cinta dibalik itu semua.

Lihat…
Itu masih menjadi milikmu sekarang.

Yogyakarta, 11 April 2014
Pukul 23.20
Seusai menonton sendratari Ramayana yang memukau.

Already published on my Tumblr
anggivish.tumblr.com

Flashback Kembak part 4/4; Anatomist's Words

Minggu, 09 Februari 2014

Sekali waktu aku blogwalking ke blog teman seangkatanku. Dia ikut Kembak dan menceritakan tentang itu juga sama seperti blog ini. Bedanya, Kembak hanya jadi sebagian kecil di postnya tentang 2013. Namun ada tambahan di cerita Kembaknya, "Tapi biasa aja sih." Hmm... Pengalaman yang sama (mungkin nggak persis sih), tapi... tapi aku ngepost sampai empat part. Uyeah. Begitulah persepsi manusia berjalan. Jadi ingat di suatu perjalanan melewati Rembang bersama Om-ku (FYI, di Rembang banyak ladang garam). Om-ku bilang, "Tuhan hebat ya? Bisa adil. Bayangin aja. Para petani minta hujan terus, tapi kalau hujan terus, giliran pencari garam yang protes." Ya gitu deh. Jadi agak setuju kan blog ini pakai tagline "depend on your perspective"? Hehehe.

OK, back to topic.

Pagi terakhirku di Bumi Perkemahan Mangli diawali dengan wudhu untuk sholat Subuh pakai air mineral. Mungkin karena sirine tengah malam sebelumnya, kami setenda kompak telat bangun dan tidak akan cukup waktu untuk turun wudhu. Hahaha mungkin inilah kemah yang sesungguhnya.

Siapa yang Kapok Kembak?
Begitulah pidato penutup dari Ka-Prodi kami, dr. Erie. Beliau dosen Anatomi yang terkenal gemar menjelajah gunung. Jujur aja aku setengah kapok Kembak. Hahaha. It's actually out of my comfort zone. Tapi kalau suatu hari aku agak dipaksa kemah lagi, aku mau kok. (Note it: "agak dipaksa")

Oh ya, aku jadi ingat salah satu kakak pembimbingku di LKMM Dasar, Kak Kibi, pernah menulis status di Facebook:

Mahasiswa itu belum mahasiswa kalau belum ngerjain salah satu dari ini:
a. mendaki
b. touring
c. nulis KTI

Apakah aku sudah mahasiswa versi Kak Kibi?

Oke, mungkin masalahku adalah ketakutanku sendiri. Bahkan membayangkan aku mendaki gunung aja belum pernah. Ditambah film 5 cm yang malah bikin aku tambah males membayangkan gunung. Sebenarnya dalam hati yang terdasar dan tersempit ada sih keinginan menjelajah alam, tapi ya itu... dalam dan sempit. *alasan*

Mungkin Kembak adalah langkah awal gadis pemalas ini berkontak dengan alam. (Hahaha)
Sebagaimana sudah umum diketahui ya: langkah awal itu seberat batu, langkah selanjutnya........

Anyway, these are some snapshots of Kembak which I miss so.

Kebetulan habis pengajian di hutan. (Eh, nggak ding. Haha)


Bareng anakku (Eh, nggak juga ding. Haha). She is Syaffa, the most lovely girl in my batch.
Oh, what a sagged glasses!
And guess what's on my left hand. Yup! Power bank. It's so helpful.

A pathway to a joy

Oh, I miss this place. May be I'll go there again next two years. :)

When the night has come and the land is dark~ and the moon is the only light we see~
Now I won't be afraid~ Now I won't be afraid~
As long as, as you stand by me~


-anggi-
9Feb14
22:18


Flashback Kembak part 3/4; Thanks Astrid!

Selasa, 24 Desember 2013

Tiba-tiba kepikiran. Kenapa aku ngepost tentang Kembak dalam banyak part, dengan masing-masing part menceritakan hanya kejadian satu hari? Intervalnya lama pula. Keburu basi nggak sih?

Di satu sisi memang iya. Tapi di sisi lain, susah banget memotong cerita Kembak yang super banyak dan semuanya valuable. Basi? Mungkin kata yang lebih tepat adalah 'lama'. Ya, hitung-hitung membangkitkan kenangan yang hampir dilupakan pelaku-pelakunya karena tertutup aktivitas lain.

So, here we go...

Pagi itu lapangan di bumi perkemahan Mangli seperti lautan ungu. Aku dan teman-teman satu angkatan memakai kaos seragam Kembak yang berwarna ungu dan celana training FK Undip. Yes! We're going to explore the nature. Outbond maksudnya. Hehehe.

Setelah games untuk satu angkatan (masuk ke dalam lingkaran gitu) dan perang yel-yel masing-masing kelompok, dua per dua kelompok mulai berjalan ke pos-pos outbond. Di pos-pos itulah dua kelompok ini akan battle untuk menentukan pemenang. Kelompokku sendiri, Boyke Before Flower (BBF), akan melawan Parkinsonian, kelompok yang anggotanya agak "menjurus" (tafsirkan sendiri ya, hehe). Kita lihat saja, siapa yang lebih hebat.

BBF dan Parkinsonian

Untuk menuju pos pertama, jalannya begitu menanjak. Seperti biasa, aku selalu tertinggal. Haaah... Kawan-kawanku memang berbadan kuat. Setiap melangkah, aku berusaha untuk mencari pegangan. Entah pohon atau rumput. Serius deh, nanjak banget! Gambaran tempatnya juga seperti hutan beneran. Cuma ada pinus dimana-mana. Aku curiga, jangan-jangan pos-pos outbond tersebar sampai puncak gunung.

Well, akhirnya kami sampai di pos satu. Pos ini hanya butuh dua orang untuk bermain. Aturannya, satu orang ditutup matanya dan dia akan masuk ke arena yang penuh rintangan. Satu orang lainnya memberi petunjuk agar orang pertama sampai di garis finish dengan selamat. Duh, kedengarannya ngeri. Padahal rintangannya cuma tali rafia. Hahaha.

BBF memainkan Cis dan Zulham, sedangkan Parkinsonian memakai Bun dan Topher. Setelah perjuangan sengit dalam gelap, sayang sekali games ini dimenangkan oleh Parkinsonian. Yosh! Semangat, BBF! Masih banyak games menanti kita! Harus menang!

Kami berjalan lagi menuju pos berikutnya. Kali ini permainan menggunakan air dan balon.

Semangat BBF! Kita pasti bisa!

Yah... Tapi nasib berkata lain. BBF kalah lagi. Dan... Meskipun semangat terus kami kobarkan di sepanjang perjalanan, kami selalu kalah hingga games kelima. Huf...

Ekspresi kekalahan (?)

Nasib berbalik di tiga games terakhir.

Games berikutnya adalah memindahkan bola dengan piring. Karena games ini membutuhkan kesabaran dan kelembutan, pemainnya pun cewek semua. Set set set... BBF dengan mudah memimpin perolehan bola. Kak bro kami, Kak Riefky, berkata, "Wah... Kelompok kita udah pro." Pluk! Bola langsung jatuh! Tidaaaak tidaaaak....! Masa sih nasib nggak jadi berbalik? Kak Riefky sih. Cepet cepet ambil lagi!

Untungnya cewek-cewek BBF bisa menguasai emosi dan memenangkan pertandingan. Horee!!

Kemenangan pertama di games bola

Kemenangan kedua di games 'menebak harga'

Kemenangan ketiga di games 'koin di tepung'



Sambil menunggu kelompok lain yang belum selesai, saya berburu kamar mandi bersama Ria. Kali ini saya mandi di rumah warga. Baik kan? Kamar mandinya bersih pula.

Nah! Sudah bersih dan wangi. Sekarang saatnya latihan untuk pensi nanti malam. BBF akan menampilkan dance dari beberapa girlsband dan parodi iklan. Pada persiapannya, kami para cewek tidak mau tampil yang aneh-aneh. Jadi, kami mengambil role dance saja. Iklan-iklan biar para cowok yang memikirkan.

Kami juga tidak mengambil dance yang aneh (err... Gentleman misalnya). Mudah kok. Hanya Baby Baby Baby dan Nobody. Sisanya? Iklan-iklan aneh dan susah untuk diceritakan. Huf... Intinya Relly berubah jadi cantik. That's it! Menurutku itu yang paling fenomenal. Bahkan sampai beberapa hari setelah kembak, dia tetap dipanggil cantik. Hahaha.

Satu hal yang membuat aku lega adalah penampilan kami sukses! Yeee...! Kami maju di urutan kedua, jadi tinggal menikmati sisa malam dengan menonton kekonyolan kelompok lain.

Hoamm... Ngantuk juga rasanya. Empat belas kelompok rasanya nggak selesai-selesai. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelinap sholat dulu. Tadi pensi mulai jam setengah tujuh, jadi belum masuk waktu Isya. Rencanaku ngajak temen entah siapa gitu, terus turun ke kamar mandi untuk wudhu, dan naik ke tenda untuk sholat. Sip!

Rencana tinggal rencana karena ternyata teman-temanku malah berencana sholat setelah pensi selesai. Tapi pikirku nanti pasti males banget kalau sudah larut malam dan mengantuk. Aku tetap berusaha mencari teman sholat. (Nggak berani sendirian, hehe). Sialnya, nggak ada yang mau. Aduh... Pilihannya antara turun wudhu dan naik sendiri di antara pinus-pinus rimbun nan gelap atau menunggu nanti setelah pensi. Aduh... Aku galau.

Tiba-tiba ada suara indah semerdu gemericik air (ah, lebay) yang berkata, "Ayo, Nggi. Aku temenin sholat!" Saat aku menoleh, ternyata itu Astrid. Dia adalah penganut Katolik yang taat, jadi aku agak nggak enak gitu. "Iya, beneran nggak papa. Sekalian aku mau ke toilet kok," katanya.

Akhirnya kami berjalan turun ke toilet. Setelah mengantri agak lama dan melakukan kegiatan kami masing-masing, kami naik lagi. Aku agak ragu untuk ke tenda karena kok kayak serem gitu jalannya. Nah! Tapi kami dicegat Kak Mustofa (kak bro kelompok lain) dan disuruh sholat di mushola darurat saja yang letaknya tidak sejauh tenda. Aku masih bersama Astrid. Dia ikut ke mushola darurat dan menunggui aku sampai selesai sholat! 

Ah, aku terharu. Kalau aku jadi Astrid dengan keegoisanku yang masih setinggi gunung, males amat deh. Dingin-dingin begini. Tapi dari Astrid aku belajar sesuatu. Hal kecil seperti menunggui orang sholat dapat berarti sangat besar dan hanya butuh kemauan untuk melakukannya. Thanks, Astrid!



-anggi-
24/12/2013
21:06



Eits! Ceritanya belum selesai sampai disini.

Baru sekitar dua jam aku tidur setelah pensi, tiba-tiba suara sirine berbunyi lagi. Tengah malam! Begitu aku sadar sepenuhnya, aku sudah berada di lapangan lagi. Aku benar-benar tidak ingat bagaimana bisa sampai disitu. Acara tengah malam itu menyentuh sekali. Kami membakar jagung dan bercerita-cerita tentang Kembak. Ada kedatangan tidak terduga dari dr. Erie, kaprodi kami, dan kembang api!

Hari itu benar-benar menyenangkan!


Flashback Kembak part 2/4; Advent Hilang!

Selasa, 10 Desember 2013

Send them your heart 
so they'll know that someone cares
so their cries in help will not be in vain
We can't let them suffer
No... We cannot turn away
Right now, they need a helping hand
(We Are The World 25 For Haiti)

Yes, for sure. We can't let people suffer. Jadi disinilah aku, berlatih untuk mengurangi "suffer" di masa depan. Acara Kemah Bakti (Kembak) hari pertama adalah bakti sosial.

Peserta Kembak yang terdiri dari dua ratusan orang angkatan 2012 dibagi menjadi tiga kelompok bakti sosial: Jika Aku Menjadi (JAM), penyuluhan, dan pengobatan massal. Kelompok-kelompok ini akan disebar di dua dusun. Kebetulan aku kebagian pengobatan massal di dusun yang dekat. Jadi, masih ada selang waktu agak lama antara bangun pagi dengan keberangkatan ke lokasi. Saat teman-teman yang kebagian tugas di dusun yang jauh sedang briefing dengan badan sudah bau wangi, aku malah survey tempat mandi di sekitar bumi perkemahan.

FYI, di bumi perkemahan itu hanya ada dua kamar mandi untuk anak-anak cewek. Jelaslah teman-temanku yang bangun jam 3 pagi menguasai kamar mandi. Aku tidak serajin itu, mamen. Untunglah Elyana memberi tahu dua pilihan kamar mandi lain. Agak jauh sih, tapi nggak antri dan nyaman. Semakin hari, pilihan kamar mandi akan semakin banyak karena warga sekitar baik hati memberi tumpangan mandi.

Oke, sekitar setengah delapan aku berangkat ke tempat pengobatan massal. Disana sudah disediakan lima pos untuk kami jaga: pos pendaftaran (tugasnya mencatat data-data pasien yang datang), pos vital sign (tugasnya memeriksa tekanan darah, denyut nadi, dan berat badan pasien), asisten dokter (tugasnya mendampingi dokter yang benar-benar memeriksa pasien. Jadi pos vital sign itu seperti memeriksa sayuran yang akan benar-benar "diolah" oleh dokter), pos farmasi (tugasnya meracik obat), dan yang terakhir runner (tugasnya menyalurkan rekam medis dan obat). Tidak hanya "nongkrong" di satu pos saja, kami akan digilir ke pos-pos lain setiap 15 menit. Biar ngerasain semua gitu deh.

Karena dulu aku sudah pernah ikut pengobatan massal yang diadakan BEM, Alhamdulillah aku jadi tidak terlalu kaget. Suara nadi yang berdenyut-denyut saat pemeriksaan tekanan darah pun terdengar jelas. Ini sering membuat ragu mahasiswa loh. Pada awal-awal kami praktik memeriksa tekanan darah, sering muncul kekhawatiran tidak terdengarnya suara nadi. Tapi setelah dicoba, ternyata tidak separah yang aku kira asal stetoskopnya berfungsi. Hehe. Kegiatan mencatat obat dan membaca resep pun berlangsung dengan baik walaupun harus sering tanya kakak pembimbing, "Dokternya nulis apa sih ini, Kak?" (Thanks to Kak Arip, Kak Agung, Kak Mawi, dan Kak Laura!)

Yang agak lucu adalah ketika pengobatan belum mulai, aku dan temanku, Topher ngobrol-ngobrol bareng seorang kakak cowok. Entah awalnya kami ngomongin apa, tiba-tiba kakak itu bilang, "Kayaknya aku perlu cek kromosom..." Eh? Buat apa? "Aku ngerasa kayak cewek. Buluku sedikit (sambil nunjukin tungkai bawah), jariku lentik, terus aku punya penyakit yang 98% penderitanya cewek. Nih... Aku yakin kukuku sama kukumu bagusan punyaku." I'm like frozen anyway. Menurutmu aku harus gimana? Tapi akhirnya si kakak bilang, "Aku masih suka cewek kok." Hahaha syukurlah...

(Foto penyuluhan di sekolah dasar. Karena yang saya mintai foto dapatnya penyuluhan, jadilah dia tidak punya foto pengobatan massal. Hehe.)

Kegiatan mengasyikan di sore setelah bakti sosial hanya lomba dengan ibu-ibu yang tinggal di dekat bumi perkemahan. Awalnya lomba joget berlangsung damai-damai aja, tapi setelah masuk ke lomba futsal, wuiih brutal semua. Aku lupa apa aku mandi sore itu, yang jelas kegiatan di malam hari lebih seru.

Malam itu kita semua menampilkan musik akustik per kelompok Kembak. Masih ingat kelompokku yang aku tulis di part 1 kan? Ya, BBF. Kami menyanyikan lagu-lagu dengan tema persahabatan. Aku masih ingat deh, lagunya Sherina, yaitu Ku Bahagia, diubah liriknya...
Walau pre-test susah, walau iden capek
Walau kuliah pun ngantuk
Rasa syukur ini karena bersama Radius susah dilupakan...
 Pas nyanyi baris terakhir itu nyes banget deh rasanya. Hahaha.

(Suasana akustikan)

Setelah semua kelompok tampil dengan meriah di tengah pepohonan rindang nan gelap, aku kira bakal ada renungan karena lilin-lilin mulai dibagikan dan dinyalakan. Tapi tiba-tiba kakak-kakak panitia pada ribut sendiri, "Temen kalian ada yang hilang dik..." "Kalian kurang satu, dik..." "Coba ditelepon..." seperti itu. Mulai terdengar bisik-bisik dari barisan melingkar kami. Teman-teman satu angkatanku mulai panik dan penasaran. Siapa yang hilang? Emang beneran dia hilang? Kok bisa hilang? Dia pergi kemana sih? Aduh, udah malem di tengah hutan begini, serem banget. Belum lama aku deg-deg-an, panitia sudah teriak-teriak lagi, "Eka Aryani mana? Eka hilang..." Loh? Kok udah tau? pikirku. Anehnya, Eka Aryani segera dilupakan seolah-olah sudah ketemu. Yang hilang ganti lagi, "Adventina dimana? Adventina hilang..." Jadi yang hilang itu siapa?

Hestu yang berdiri di belakangku dengan santainya berkata, "Kayaknya ini sandiwara. Nggak mungkin kan jumlahnya kurang satu terus cepet banget ketahuan siapa yang hilang?" Dan kayaknya banyak anak yang sependapat dengan Hestu. Kakak-kakak panitia yang teriak-teriak dan menambah suasana panik hanya dibalas dengan pandangan bengong oleh sebagian besar anak. Kemarahan mereka menjadi-jadi, bahkan saling menyalahkan. Kakak-kakak juga akhirnya menyalahkan kami sebagai akibat perpecahan mereka. Dibilangnya kami nggak setia, nggak khawatir teman hilang, nggak berusaha nyari, dan lain sebagainya. Well, andai Advent benar-benar hilang, aku juga nggak bakal berani ikutan nyari. Salah salah malah aku juga hilang. Iya kan? Jadi yang aku lakukan cuma berdiri anteng di barisan dan menahan dinginnya angin tengah malam.

Waduuuh...
Aku jadi bingung bagaimana mengakhiri tulisan ini. Gabungan angin tengah malam yang lembap dan dingin, serangan kantuk, dan kakak-kakak yang masih berteriak-teriak sepertinya membawa kesadaranku agak turun. Akhirnya Advent ditemukan dan kakak-kakak memberi wejangan-wejangan. Intinya jangan sampai terpecah belah antar-teman satu angkatan karena hilang satu orang saja, angkatan itu tidak akan terasa sama lagi. Pesan yang bagus dan disajikan sedemikian hingga penyampaiannya pun cukup bagus. Entahlah. Kesadaranku sudah tidak 100% full, ingat?

Ya begitulah... Hari itu mengajarkan bahwa pengalaman memang guru yang paling berharga. Belajarlah dari pengalaman. Tapi bukan berarti kalau belum berpengalaman tidak belajar loh ya...

(Tepat sebelum kepanikan "Advent hilang!")



-anggi-
11/12/2013
00.13


Flashback Kembak part 1/4; Teman-teman Kembak

Kamis, 21 November 2013

Pagi itu aku dibangunkan oleh suara sirine. Sebelum membuka mata, aku merasa kok kasurku nggak seempuk sebelumnya. Bau ruangan itu juga agak apek. Barulah detik berikutnya aku sadar aku berada sejauh 82 km dari rumahku di Semarang! Di ketinggian sekitar 1200 dpl bersama pohon-pohon karet inilah greatest adventure of the year akan dimulai hari itu. Desa Mangli, Kabupaten Magelang, what you offer to me?

Ini pertama kali aku kemah menggunakan tenda yang benar-benar tenda. Di kemah-kemah sebelumnya, entah itu di SMP atau SMA, tendanya berupa barak. Jadi ini benar-benar tidur di tengah alam. Walaupun bukan aku yang mendirikan tenda (big thanks to panitia Kembak dan kakak-kakak Maladica!), tetap saja ini pertama kali aku tidur di tenda!

Kemah ini bertajuk Kemah Bakti (Kembak) 2013. Suatu acara kemah dan bakti sosial yang pesertanya mahasiswa semester 3 di jurusanku dan panitianya mahasiswa 2 tingkat di atasnya. Persiapan pra-kembak sebenarnya sudah dimulai berbulan-bulan sebelum hari H. Teman-teman satu angkatanku yang berjumlah 217 orang dibagi menjadi empat belas kelompok. Jadi... Terdamparlah aku di kelompok 13 bersama lima belas orang yang lain, kak bro: Kak Riefky, dan kak sist: Kak Dina.

BBF. 
Dari kiri, atas: Relly, Cis, Zulham, Dwi, Kak Riefky, Umar, Amel, Ria, Gina, aku, Yethie
Bawah: Cindy, Intan, Dida, Gaza, Kak Dina, Astrid

Pembagian kelompok ini benar-benar acak. Bahkan aku merasa jarang mengobrol dengan beberapa orang dari kelompokku selama ini. Pernah juga aku berpikir, "Ih, kok aku sekelompok sama dia sih?" atau "Aduh gimana cara ngomong sama orang nyeremin kayak dia?" atau "Kenapa sih kelompokku susah kumpul?" dan pikiran-pikiran yang lain.

Tapi... Inilah gunanya ada panitia. Hahaha.

Dalam waktu berbulan-bulan itu, kami diberi tugas-tugas yang ringan tapi rempong. Mulai dari latihan memberi pengobatan dan penyuluhan, wawancara dosen dan kakak tingkat, membuat jargon, menyiapkan pensi untuk ditampilkan waktu kembak, menyiapkan barang-barang, dan tidak lupa menamai kelompok. Aku jadi merasa klop dengan kelompokku itu walaupun aku rasa karakter masing-masing dari kami bener-bener beda. Ada Dida, Cindy, dan Yethie yang gaul banget; Astrid dan Cis yang pinter; Zulham, Relly, dan Gaza yang agak aneh; Amel dan Dwi yang pendiem; Ria yang ceriwis banget; si komting Umar; dan juga Intan, Ifa, dan Gina. Lama-lama obrolan kita nyambung dan jadi ada rasa seneng kalau kumpul bareng mereka. Kesan awal yang nggak enak sedikit demi sedikit hilang. Oh iya, karena nama kelompok harus terinspirasi dari nama dokter, akhirnya kami menamai kelompok kami BBF: Boyke Before Flower. (Aku nggak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Terinspirasi dari dr. Boyke??? Yah, if you know what I mean lah.)

Setelah kumpul di kampus. I don't have any idea about that 'style'. XD

Saat hari H tiba, kami berangkat dari kampus kami di bumi Tembalang, Semarang pukul setengah enam sore. Kami satu bis dengan kelompok 14: Extra Jose (coba tebak dokter siapa yang menginspirasi mereka?). Anak-anak cowok langsung menggelar konser akustik di belakang. Tempat dudukku yang juga di belakang ditambah teman sebelahku, Ria, yang suka ngoceh (hehe, peace, Ri!) bikin aku nggak bisa tidur. Padahal anak-anak lain tidur.

Sebelum berangkat. Di depan kampus FK Undip.

Sampai di sana, kami masih harus berjalan sekitar 2 km ke bumi perkemahan. Terima kasih untuk anak-anak cowok BBF karena mau membantu kami, anak-anak cewek membawa barang-barang kami yang rempong. Hiks, aku terharu (haha lebay).

Sebelumnya juga sudah dibagi kelompok tenda. Lagi-lagi benar-benar acak. Tapi kayaknya aku udah agak pinter menyesuaikan diri. Hehehe. Kan udah latihan sama BBF. Satu tenda berisi tujuh orang. Selain aku, di tendaku ada Ria (nggak tahu kenapa aku selalu kebagian sama dia), Mita, Josephine, Ratih, Yustina, dan Fiqih. Kami berbagi tempat, senter, dan tentu saja kehangatan. Iya loh, mungkin kalau tidurnya tidak sempit-sempitan kami bakal kedinginan.

Dan disitulah aku pagi itu. Bangun dari dalam sleeping bag di pagi buta bersama teman-teman setendaku. Kalau di rumah tinggal jalan 10 langkah ke kamar mandi, di Mangli harus menuruni bukit dulu. Ya! Semangat! Pengalaman seru akan didapatkan tiga hari ke depan!


Before you, I only dated self 
indulgent takers who took all of their problems out of me
But you carry my groceries and now I'm always laughing
and I love you because you have given me no choice but to

stay stay stay
I've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when I'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay stay stay

(Taylor Swift - Stay Stay Stay)


-anggi-
22/11/2013
10:59



Afternoon Talk

Kamis, 29 Agustus 2013

Kalau kamu sudah siap menjalani hari-hari sebagai mahasiswa kedokteran, satu lagi yang perlu kamu siapkan: keluargamu. Tentang sekolah yang lebih lama dari yang lain, perjuangan yang belum berhenti setelah lulus, long-life learner, dan hal-hal semacam itu. Saya yakin sih bidang non kedokteran pun ada kegalauan semacam ini. Tentu saja berbeda-beda cara menanganinya.

Ibu  : "Wah, hebat ya anaknya Pak X. Kuliah diploma tiga tahun, cumlaude, sekarang direkrut Petronas dan disekolahin lagi. Kalau anaknya Bu Y, satu almamater sama ibu. Sekarang dia kerja di Qatar."

Aku  : (setel soundtrack Ada Band. Terdiam... Hanya bisa diam... Dingin menyerang...) (nyari maksud tersembunyi dari omongan ibu)

Ibu  : "Beda lagi sama anaknya Pak Z, lulus SMK, pinter, terus disekolahin ASTRA di Jepang. ..."

Aku  : "Err... Bu. Tapi aku beda sama mereka loh ya. Sekolahku bakal sedikit lebih lama. Nanti tempat kerjaku juga beda, bukan keluar, tapi ke dalem. Ke tempat-tempat yang lebih 'dalem' di Indonesia. Jadi... Tolong jangan disama-samain."

(hening beberapa detik)

Ibu  : "Iya. Masalah rezeki nggak usah kamu pikir. Udah ada Yang Ngatur. Pikir aja gimana kamu mengabdi di masyarakat. Sudah."


Yosh! Yosh! Ternyata keluarga saya sudah siap. Tinggal mempersiapkan diri lebih dari yang sekarang. Saat pertama menentukan jurusan di kedokteran, rasanya cuma pengen-pengen aja. Kalau ditanya kenapa pengen masuk kedokteran, biasanya jawabannya standar antara "Ingin mengabdi pada masyarakat..." atau "Terinspirasi dari dokter lain..." atau malah "Ingin menghindari Matematika..." hahaha. Yah, semacam itulah. Tapi ya, setelah masuk kedokteran dan Alhamdulillah besok Senin udah masuk semester 3, ternyata kedokteran lebih jauh dari itu. Maknanya lebih dalem. Apa itu? Saya belum berani bilang. Mungkin di post-post pas saya di semester yang lebih tinggi, saya bisa jawab lebih bagus.

Oh ya, setelah afternoon talk yang itu, ibu saya jadi jarang ngomongin anak-anak orang lain. Hehehe.


"Idealisme itu bisa berubah." -dr. Djoko, dosen Kewarganegaraan


-anggi-
29/8/2013
14:49
-
 Picture: Sena Maria in Saijou no Meii/The Best Skilled Surgeon by Hashiguchi Takashi

A Bunch of New Life: Kembali dari Bukaan

Minggu, 23 Desember 2012

Lupakanlah semua yang lalu
Kita sambut yang baru
Janganlah kau ragu 'tuk maju
Kejar semua impianmu

Hadapilah semua rintangan
Kuatkanlah tekadmu
Gapailah semua anganmu
dan yakinkan dirimu
It's a brand new day 
(Cherry Belle - Brand New Day)

A big hallo from Semanggi 4 Jari!
It's been a long time, right? Hohoho. I miss you so much, guys. Do you miss me too? Alright, begitu saya buka blog.... Tararara... Foto-foto masih bahula, entri terakhir malah promosi video, statistik turun, dan shoutout box juga sepi. Huhuhu. Oke, cukup.

Seiring dengan tidak adanya berubahan di blog saya selama sekitar lima bulan, malah banyak perubahan yang terjadi di hidup saya. Yakin deh, kalau Raditya Dika tahu tentang ke-hiatus-an blog ini, entah apa komentarnya. Yakin juga dia nggak akan terima saya bilang lagi ada "perubahan hidup". Kayak operator seluler aja lagi perubahan tarif. Hehe.

Ngomong-ngomong tentang hiatus, Oxford Advanced Learner's Dictionary bilang kalau hiatus berarti a pause in activity when nothing happens. Berati bisa dibilang penggunaan kata hiatus tadi tepat dong? Tapi, di daftar istilah Sobotta Atlas Anatomi Manusia ditulis bahwa hiatus (latin) = bukaan lebar, menganga, tetap terbuka, (yunani) = menguap, menganga. Loh? Jadi bagaimana? Oh, mungkin maksudnya nggak ngapa-ngapain sambil mangap kali ya? *failed*

Bumi Memanggil Bulan
Oke, kita kembali ke main topic. Hidup saya sekarang sudah pindah ke RSUP dr. Karyadi. Eits, bukan karena mengidap suatu penyakit atau pindah rumah kesana loh ya, melainkan kampus saya masih satu kompleks dengan Karyadi. Yap, Kedokteran Umum Universitas Diponegoro.

Kalau ada orang bilang, "Saya dari kedokteran umum...." entah apa terusannya, pasti mimik wajah si lawan bicara langsung berubah. Maksud saya, bukan hanya sekedar "oh". Jujur saja, saya merasa di Indonesia ini program studi kedokteran umum (KU) terasa wah dan eksklusif. Ditambah lagi kampus KU di lingkungan Universitas Diponegoro (Undip) terpisah dari fakultas-fakultas lain. Nggak cuma semeter dua meter, tapi jauh banget. KU ada di Karyadi dan fakultas lain ada di Tembalang. Coba deh cari di Google Map kalau nggak percaya. Hehehe. Tapi yakinlah, kawan-kawanku semua, anak kedokteran juga manusia. We will open our arms for you. Get closer, get closer.

Satu hal lagi. Sudah saya bilang kan kalau banyak perubahan hidup? Hahaha. Sebenarnya itu terkait dengan sistem perkuliahan yang baru buat saya, teman-teman baru, kakak-kakak baru, guru-guru baru, tempat-tempat baru, buku-buku baru, semuanya serba baru. Karena itulah saya berencana untuk membuat satu label lagi di Semanggi 4 Jari, yaitu... Tararara... Medstud's Diary. Semoga bermanfaat ya. Sekalian juga bisa buat berbagi cerita untuk adik-adik kelas, temen-temen fakultas lain, atau siapa pun deh yang mau baca. Hehehe.

Nah, A Bunch of New Life ini semacam perkenalan. Mulai dari asistensi, responsi, tentamen, maga, LDO, dll. Argh, apa itu? Tenang... Tunggu part selanjutnya ya.


 However rough the path, keep moving on!




-anggi-
23 Des 2012
19:53

Seven Stars Doctor: Film Doctor as Researcher

Selasa, 20 November 2012

Mahasiswa kedokteran sekarang diharapkan mampu menjadi 7 stars doctor. Apa itu? Salah satu poinnya adalah doctor as researcher atau dokter sebagai peneliti. Apa 6 poin yang lain? Jawabannya ada di post selanjutnya ya. Sekarang, tonton dulu film yang mengangkat poin researcher berikut ini. Buatan FK Undip lho...

TONTON FILM VIA YOUTUBE

A Journey to Get There: Memories of SNMPTN

Kamis, 26 Juli 2012

Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu akbar.

Yap, akhirnya. Setelah lama menanti dan nyoba-nyoba sana-sini, akhirnya saya dapat tempat kuliah juga. Alhamdulillah ada satu kursi untuk saya di Universitas Diponegoro.

Oh, iya. Saya pernah bilang mau cerita tentang SNMPTN kan? Here it goes...

Kalau saya bilang sih, SNMPTN itu pesta akbar lulusan-lulusan SMA. Dari yang baru lulus sampai yang tahun kemarin sudah kuliah pun ada. Dari yang niat banget sampai yang cuma coba-coba. Dari pelosok sampai ke kota. Dari yang pesimis sampai PD abis. Ya pokoknya macam-macam lah saking banyaknya yang ikut.

Pra-SNMPTN
Ini masa-masa yang cukup berat. Hard, heavy, and a bit hurt. Tapi... Ada kata "tapi" nih. Menurut saya sih, berat itu datang dari pikiran kita. Nah, dari mana dia datang? Bisa jadi dari terlalu memikirkan kuota. Bisa juga dari hasil try out. Hmm... Mungkin juga karena ada rasa takut.Atau kombinasi dari ketiganya dan alasan-alasan lain.

Saran saya, buang semua! Apanya? Ya rasa yang membuat kita tidak nyaman. Pikir dan bicarakan dengan dirimu sendiri kalau kamu bisa berulang kali. Rasa takut itu juga bisa membuat kita males gerak loh. Akhirnya malah nggak belajar.

Oh iya, ini ada motivasi dari guru bimbel saya (Mas Slem, thank you!).

SNMPTN itu kayak perang. Nah kalau perang itu butuh tahu apa? Pertama, tahu kemampuan kita. Siapin lah itu pedang, pistol, meriam, apa aja deh. Kedua, tahu medan dan situasi perang itu. Terus ketiga, tahu lawannya siapa. Udah bener-bener nyiapin pedang, nanti tahu-tahu lawannya pakai tank. Ya kalah.
Jangan lupa berdo'a. OK? Bagi yang muslim: sholat fardhu jangan telat, dhuha, tahajud, shalawat, dan sedekah. Top lah itu. (Itu saya cuma nyalurin kata-kata Ustadz Yusuf Mansur. Hehe)


SNMPTN
Jangan menyerah dulu sebelum SNMPTN karena puncak perjuanganmu ya di SNMPTN itu.

Waktu itu tempat ujian saya di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Thanks, Unnes! Karena tempatnya yang asri, jadi ngurangi grogi deh.

Tips:
  1. Sehari sebelum SNMPTN cek dulu tempat ujian.
  2. Kalau butuh kendaraan waktu berangkat, naik kendaraan roda dua saja. Jalan ke tempat tes pasti macet. Percaya deh.Oh iya, berangkatnya jangan mepet.
  3. Jangan lupa bawa kartu tes dan perlengkapan alat-alat tulis: pensil, penghapus, bolpoin, penggaris, dll.
  4. Jangan terpengaruh penampilan peserta lain. Belum tentu yang penampilannya oke lolos. Pikirin aja itu.
  5. Biasanya kan SNMPTN dilaksanakan dua hari, nah selesai SNMPTN hari pertama fokus pada SNMPTN hari kedua.
Pasca-SNMPTN
Santai aja lah... Nonton drama korea juga oke. Hehe. Sewaktu saya selesai SNMPTN, The Moon that Embraces The Sun lagi diputer di Indosiar. Jadi ada kesibukan setelah SNMPTN dan nggak galau. (eh, kesibukan apa coba?). Carilah kesibukan pasca-SNMPTN.


Ulalalala~
Kok saya jadi ngasih tips-tips ala majalah ibu-ibu gini sih? Nggak papa deh. Semoga bermanfaat. :)

Oh iya, saya juga mesti bersyukur karena nggak semua orang bisa di posisi ini. Bahkan teman saya dari China, Jessica dan Candy, pernah kaget. Kata mereka, "What? Ninety six for two thousand? In China is easier." Saya gantian kaget. Masa sih di China nggak susah? Kan penduduknya lebih banyak. Mungkin universitas disana ada banyak kali ya?

Pernah nonton Indonesian Idol 2012? Salah satu pesertanya (siapa ya, saya lupa) pernah bilang, "Saya berjuang juga demi temen-temen saya yang nggak lolos. Saya nggak boleh ngecewain mereka." Nah, betul itu.

Last, posting ini bukan bermaksud sombong. Saya hanya ingin memotivasi. Maaf kalau ada yang tidak berkenan.


-anggi-
27 Juli 2012
13:27

Hold on 'til The Night Special Asia Edition

Senin, 23 April 2012

So it's over, yeah we're through
So imma unfriend you
You're the best liar I ever knew
So imma unfriend you...

Udah pernah denger lagu itu kan? Si penyanyi baru aja dapet platinum loh di Indonesia. Yap, Greyson Chance dengan lagu andalannya Unfriend You.

Greyson, yang masih muda banget, sebenernya sudah mengerluarkan album berjudul Hold on 'til The Night. Isinya ada sebelas lagu. Entah mungkin karena fans-nya di Asia sangat banyak dan heboh (bahkan dia udah bolak-balik ke Indonesia berkali-kali, tapi sayang dia belum ketemu saya), tahun ini dikeluarkan lagi album itu, tapi pakai embel-embel "Special Asia Edition".


Jadi, apa bedanya yang pakai embel-embel sama yang nggak pakai? Masih sama sih, tapi ada enam track tambahan plus DVD yang isinya MV dan behind the scene dari beberapa lagu. (hehe, itu namanya nggak sama ya?)

Start from The CD
Seperti yang sudah saya bilang tadi, ada sebelas lagu plus enam lagu tambahan di CD ini. Menurut saya, semua lagu sesuai dengan porsinya. Nggak semua tentang broken heart, falling in love, atau cinta-cinta yang lain. Nggak semua balad atau ngebeat. Yang pasti, suara Greyson yang berat berat imut tereksplor dengan baik. Komposisi musiknya, walaupun kebanyakan diiringi piano, tetap jos!

Di track utama ada Waiting Outside The Lines yang jadi andalan Greyson juga. Ada juga Unfriend You, Home is in Your Eyes, dan Hold on 'til The Night yang amazing banget (saya sampai muter berulang-ulang loh). Ada juga yang slow banget berjudul Cheyenne. Yang mirip musik pantai juga ada: Stranded. Oh, iya, dulu kan Greyson terkenal gara-gara nyanyi Paparazzi dari Lady Gaga di Youtube, nah ada juga lagu yang nuansanya mirip-mirip Paparazzi berjudul Heart Like Stone. Lagu lain yang nggak kalah asyik adalah Little London Girl, Summer Train, Take a Look at Me Now, dan Running Away.

Di bonus track, lagu-lagunya nuansanya nggak beda jauh sama lagu-lagu di track utama, yaitu Slipping Away, Purple Sky, Light up The Dark, dan Fire. Paparazzi juga ada, dibawain sama kaya pas pertama kali Greyson muncul. Last, Waiting Outside The Lines di-remix dengan menambahkan suara Charice (penyanyi dari Filipina kalau nggak salah). Beberapa liriknya ada yang dirubah, tapi jadi tambah bagus. Suara Charice nggak kalah kok sama Greyson.

Watch What's in DVD
Yap, seperti yang sudah saya bilang tadi, ada music video dari beberapa lagu, yaitu Waiting Outside The Lines, Unfriend You, dan Hold on 'til The Night. Kalau penasaran kaya gimana MV itu, nonton aja di Youtube ada kok.

Next, ada behind the scene pembuatan MV tadi, video Paparazzi dimana Greyson nyanyi sambil main piano, video ucapan terima kasih Greyson untuk fans di Asia, dan cerita Greyson tentang lagu-lagu yang dia nyanyiin.

What I Say is...
This album is totally great! Bring satisfaction for his fans, especially those in Asia. Bener-bener merasa dihargai sebagai fans. *terharu*


Oh iya, sebaiknya untuk album-album selanjutnya Greyson tetap menyanyikan lagu yang tepat, sehingga dia bisa mengeksplor suaranya seperti di album ini. Beneran deh, suaranya yang bagus bener-bener ditunjukin di album ini. Menurut saya, selain piano, suara Greyson yang unik adalah kekuatan utama. Fire! Fire!

Yap, this album is worth buying.



-anggi-
24 April 2012
08:24

Isi Hati Pengisi Soal UN

Minggu, 15 April 2012

Yak, seperti yang sudah diberitakan dimana-mana, hari ini Ujian Nasional (UN) SMA. Kalau tahun-tahun sebelumnya saya cuma bisa nyemangatin kakak-kakak kelas, tahun ini saya jadi peserta. Lalu, kenapa saya malah ngeblog? -_-


Sebenarnya saya mau curhat nih. (Apa deh...) Pertama, berita di televisi itu pada kurang update atau bagaimana ya? Masa kebanyakan diberitakan kalau UN jadi penentu utama kelulusan? Kalau itu diberitakan tiga tahun yang lalu sih, emang bener. Tapi kan sekarang ada Ujian Sekolah (US) dan nilai raport juga yang menentukan.

Jadi begini sistemnya. Nilai akhir ujian itu akumulasi dari 60% UN dan 40% nilai sekolah. Nah nilai sekolah itu adalah 60% nilai US dan 40% nilai raport. Untuk bisa lulus, nilai akhir harus lebih dari atau sama dengan 5,5 dan tiap mapel UN minimal 4,0. Begitu...

Oh, saya tahu sekarang. Mungkin orang-orang pikir nilai sekolah lebih bisa "diuwik-uwik" daripada nilai UN kali ya? Kalau belum ngerti makna diuwik-uwik, begini penggambarannya:

Sekolah saya (Alhamdulillah) sekolah yang dipandang unggulan. Kata banyak orang, kemungkinan besar kami akan lulus (amin). Tapi kan ya optimis itu bohong namanya kalau nggak usaha. Iya kan? Saya ikut bimbel yang memang satu kelas isinya anak-anak dari sekolah saya semua. Pas UN memang nggak ada pelajaran tambahan dari bimbel. Nah pas ditanya kenapa, ada guru bimbel bilang gini, "Kalau kalian, nggak usah dikasih tambahan deh ya. Istirahat aja, saya yakin kalian lulus. Kalau dulu kan bener-bener nilai UN yang cuma dipakai, tapi sekarang ada nilai sekolah. Kalian pasti nggak tahu nilai US kalian berapa. Nah disitu sekolah "main". Kalau semisal nilainya lima, ya ditambah sedikit lah jadi delapan." Glek! Masa sih beneran gitu? Ya memang sih soal-soal US itu yang bikin guru-guru sekolah sendiri, tapi saya belum tahu yang mengoreksi US itu guru-guru sekolah lain atau guru-guru sendiri juga.

Sudah ngerti kan penggambaran "diuwik-uwik"? Saya nggak sepenuhnya percaya dengan pendapat guru bimbel saya itu, tapi juga nggak sepenuhnya menyangkal. Jadi mungkin itu pendapat media masa tentang UN tetap menjadi penentu yang terkesan utama.

Curhatan kedua, disamping UN memang menakutkan, kenapa sih media massa kesannya menambah-nambahi kengerian yang sudah ada? Seminggu sebelum UN, banyak berita di koran tentang UN itu sendiri. UN, Guru Curang Diancam Pidana. Kunci Jawaban UN Beredar Lewat SMS. UN, Turunkan 100 Personil. Soal UN SMA Sederajat Kampar Dikumpulkan di Polres.

AAAAAAAAHHHH... Bagaimana tadi saya mengerjakan kok santai-santai saja? Apakah saya kelewat santai? Apakah malah saya sudah siap? Kok kayanya diluar sana penyelenggara UN amat heboh?

Saya jadi dapat satu kata untuk UN: heboh.

Ketiga, kenapa sih UN SMA paling heboh diberitakan dan dilaksanakan? Sampai-sampai ada lima paket soal yang beda. Padahal kan SMP juga ada UN, bahkan SD pun ada UASBN.

Dalam pikiran saya ada tiga alasan untuk ini. Satu, UN SMA paling menentukan untuk masa depan. Maksud saya, kalau SD, kan masih lanjut SMP dan SMP masih lenjut ke SMA. Masih dalam bentuk sekolah gitu loh. Kalau SMA sudah bukan bentuk sekolah, melainkan perguruan tinggi yang hubungannya sama dunia kerja. Dua, mungkin soal UN SMA lebih susah daripada soal UN SMP. (Ya iyalah, Nggi...) Eits, maksud saya rasanya lebih susah UN SMA bagi anak-anak kelas XII daripada UN SMP bagi anak-anak kelas IX. Apalagai kelas VI. Tiga, SMA memang masa-masa heboh.

Keempat, ya bagaimanapun UN must go on. Setelah UN juga ada SNMPTN yang lebih ngeri (katanya). Ntar deh kalau sempet dan kalau ikut, saya juga ngepost tentang SNMPTN deh.

Bagian ini saya gunakan untuk memotivasi diri sendiri ya. Hehe.

Tetap optimis, Nggi! Biarpun di luar sana banyak kehebohan yang terjadi, yang penting kamu sudah persiapan dan do'a. Udah ngerjain soal-soal sampai bejibun, les sampai maghrib, doa bersama plus ibadah-ibadah lainnya, dll. Insya Allah usahamu tidak akan diingkari. Amin. Kalau kamu merasa tenang, tenanglah. Hehe.


Akhir kata, saya ucapkan terima kasih untuk yang membaca post ini dari awal sampai akhir. Kalaupun gaje, maafkan ya. Terima kasih juga untuk orang-orang yang sudah membantu dan mendoakan saya.

Oh, iya ada salah satu ayat favorit saya nih.

Barang siapa mengerjakan kebajikan, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari, dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuknya. (Q. S. Al-Anbiya' 21:95)


-anggi-
16-Apr-2012
13:23



Firts Note After Hiatus : Notes From Qatar

Jumat, 06 April 2012

Untung ya blog itu bukan rumah. Kalau iya, pasti Semanggi 4 Jari sudah berdebu, bersarang laba-laba, bersarang kecoa, dan bersarang hewan-hewan lain karena ditinggal empunya siap-siap ujian akhir.

Yup, Ujian Nasional (UN) kurang lebih memang seminggu lagi, tapi Alhamdulillah ujian-ujian dari sekolah sudah terlewati. Ujian masuk perguruan tinggi juga sudah ada yang mulai. Beberapa minggu yang lalu, saya mencoba ikut tes masuk Politeknik Negeri Semarang, tapi gagal. Saya juga ikut banyak try out, tapi hasilnya belum memenuhi target. Saya jadi berpikir, gimana nanti UN dan SNMPTN. Kok kayak gini terus? Banyak temen yang nilai try out-nya udah 9 bahkan 10.

Disitulah saya inget beberapa pepatah Jepang: saru mo ki kara ochiru (bahkan monyet pun bisa jatuh dari pohon), keizoku wa chikara nari (kegigihan adalah kekuatan), dan nanakorobi yaoki (jatuh tujuh kali, bangun delapan kali). Ini membuat saya berpikir kalau saya masih punya kesempatan asal saya tekun. Ditambah lagi saya nemu buku Notes From Qatar yang isinya cocok dengan tiga pepatah itu.


Pasti banyak yang udah tahu. Selain blog, itu juga judul sebuah buku. Ternyata Notes From Qatar tulisannya Muhammad Assad ini memang diambil dari blognya. Ya semacam Kambing Jantan-nya Raditya Dika gitu deh. Isinya tentang kisah-kisahnya Bang Assad waktu kuliah S2 di Qatar. Nggak melulu pengalaman sih, tapi juga ide-ide, pendapat-pendapat, dan penjelasan-penjelasan masalah sosial keagamaan.

Saya paling suka beberapa part dari buku itu. Pertama, tentang dahsyatnya sedekah--ini yang membuat buku ini terkenal. Bang Assad menceritakan pengalaman sedekahnya yang langsung dapet reward dari Allah swt. Contohnya nonton sepak bola gratis dan naik pesawat kelas bisnis dengan harga ekonomi. Gokil banget! Kedua, bagian-bagian motivasinya, seperti kerja keras untuk mendapat beasiswa, mengalah untuk menang, melihat sesuatu dengan sisi lainnya, sampai menghargai orang lain. Di setiap bab, pasti diselipin ayat Al-Qur'an, hadist, atau kata-kata dari tokoh terkenal. Bang Assad cerita kalau dia bisa seperti sekarang itu nggak gampang. Ia juga pernah jatuh bangun berkali-kali. Menurut dia, untuk meraih sukses kita harus punya 3P: positive, persistence, and pray. Inilah yang membuat saya tertular semangat.

Karena diambil dari blog, bahasa nge-blognya masih terasa. Tapi nggak papa. Jadi buku juga oke kok, banget malah. Bahasanya ringan dan penyampaian maksud juga lancar. Bang Assad pinter banget membuat pembaca paham apa sih sebenernya yang mau disampaiin atau gimana sih yang bagus. Topik yang diangkat juga menggelitik. Tulisan-tulisannya nggak terkesan omong kosong karena si penulis sudah berpengalaman. Sayangnya ada beberapa ejaan yang kurang sempurna. Ya itu tadi, kekhasan blog masih belum hilang.

All in all, buku ini cocok banget dibaca untuk semua kalangan, tapi paling bagus untuk anak-anak muda. Selain Bang Assad masih muda, tapi juga banyak pembelajaran yang bisa diambil berkaitan dengan kehidupan anak muda.

So, ready, set fire, and light the fire! Positive, persistence, and pray!


-anggi-
6 April 2012
16:03

Social Care Hari Keempat; Final

Sabtu, 14 Januari 2012

Drrrt... Drrrtt...
Pagi-pagi ada SMS dari Jujuk. Isinya kira-kira begini, "Maaf ya teman-teman. Hari ini aku harus ke Jogja, jadi nggak bisa soscare. Nanti bapakku yang izin."
Hmm... Oke deh. Karena saya bukan anggota DPR yang bisa menentang bapaknya Jujuk, relakan sajalah hari keempat ini cuma berlima.

Rencananya hari ini mau nglanjutin Three Idiots yang kemarin belum selesai ditonton, closing ceremony, rujak party, dan foto-foto. (haha yang terakhir itu nggak pernah lupa ya?)

Eh, sebelum ke panti, saya dan Ariany ke pasar Randusari tempat nenek saya biasanya jualan. Bukannya mau jadi sales dagangannya nenek saya lho ya. Kemarin saya sudah pesan buah-buahan buat rujak party hari itu. Jadi tinggal ngambil aja.

Movies
Ruang Aula yang kemarin disulap jadi bioskop, hari keempat ini nasibnya nggak beda jauh. Setelah nyelesaiin film Three Idiots, sisa waktunya masih banyak banget. Untung si Luthfi udah siap-siap bawa film lain. Akhirnya kami nonton Karate Kid. Malah sehabis Karate Kid dilanjut nonton I Not Stupid karena waktu entah kenapa nggak habis-habis. Hehe.

Penutupan
Untunglah di acara penutupan ini saya nggak dipaksa ngasih sambutan lagi. Fiuhh... Setelah sambutan dari pihak panti, kami foto-foto dengan susah payah (baca: bingung siapa yang mau pegang kamera). Nggak tanggung-tanggung dah, foto-fotonya sampe pintu gerbang. Untung aja Maxiimal nggak langsung diusir keluar gerbang.

Oh ya, kelompok Maxiimal ngasih foto dan bola sebagai kenang-kenangan. Niatnya sih mau ngasih sembako atau sabun, tapi kayaknya udah pada hampir defisit deh. Haha.

Kelompok Maxiimal pakai batik Ganesha. Dari kiri: Dalilah, Ariany, Luthfi, saya, dan Cacak.



Habis itu makan deh. Mama Dalilah ngirim nasi kotak dari Lombok Idjo lho. Makan ayam... Pok pok pok...

Di acara ini sempet ngerasa terharu juga sih. Jadi punya rasa optimis, care, lebih deket sama temen-temen, peka terhadap lingkungan, suka bersih-bersih, rajin mandi, gosok gigi... *plak!*
Saya juga jadi mikir. Selama saya disini, waktu sholat saya jadi lebih teratur daripada pas di rumah yang kadang serabutan.

Rujak Party
Tapi... Tapi... Sebelum Jujuk meninggalkan kami ke Jogja, dia sudah beli bola (tentu aja uangnya patungan). Di hari terakhir ini rencananya bola itu mau dipakai main futsal sehabis Ashar.

Nah sebelum futsal itulah rujak party. Saya bersama Ariany dan Huda yang nyiapin rujaknya lho. Saya sengaja pesan ke Huda untuk dibuatin sambel yang nggak pedes. Kenapa? Waaah... Berani-berani saya makan pedes, bisa-bisa masuk rumah sakit nanti.

Begitu rujaknya dikeluarin di lapangan, WAAAAAA.... Langsung diserbu dengan anarkis.



Say Goodbye to The Sun Today
Sambil ngeliatin anak-anak panti main futsal featuring Luthfi, saya ngobrol ngalur ngidul sama Ariany dan Dalilah (Caca udah pulang). Hari itu saya dan Ariany pulang sore banget. Sampe rumah Maghrib.

Besoknya pantat udah nggak pegel karena perjalanan Manyaran-Ketileng. Besoknya nggak usah bawa-bawa papan Scrabble Luthfi. Besoknya nggak pusing mikirin mau ngadain acara apa. Besoknya nggak usah piket sore-sore. Walaupun begitu, besoknya juga nggak ngakak bareng temen-temen sebelum Dhuha. Nggak nge-bully Dalilah lagi. Besoknya nggak ketemu adik-adik panti yang lugu. Dan yang pasti besoknya udah nggak social care di PA Ikhlasul Amal 2. Hal-hal kayak itu bakal bikin kangen sampe besok tua. Kenapa? Because we will not get any identical circumstance. That's what we called memories. And memories are to cherish forever in our hearts.


-anggi-
15 Jan 2012
11:46

Social Care Hari Ketiga; Busy Day

Senin, 02 Januari 2012

Recommended untuk baca posting hari pertama dan hari kedua. :)

Nah seperti saya bilang di posting hari kedua, hari ketiga social care kelompok Maxiimal diisi dengan games setelah Dhuha. Ada enam games, yaitu mindahin kelereng pakai sendok, masukin bola ke ring basket, komunikata, main balon, masukin pensil dalam botol, dan main rafia berantai. Sesuai kesepakatan, dari sekitar 30 anak yang ikut dibagi menjadi dua kelompok. Nah karena peserta untuk setiap lomba itu beda-beda (ada yang kelompok, ada juga yang individu), masing-masing kelompok harus mengirimkan wakilnya. Jadi gitu deh sistemnya.

Ada sekitar 13 hadiah yang kami siapkan. Kan kelompok Maxiimal ada enam orang. Nah masing-masing bawa dua hadiah. Tapi entah siapa dan mengapa ada yang bawa tiga. Ya Alhamdulillah deh. Yang pasti itu bukan saya. Hehe. Isi hadiahnya juga macem-macem lho.


Sayangnya hari ini giliran saya masak. But, don't worry. Tetep ada fotonya kok.

Lomba balon: bawa balon di kepala sambil joget-joget diiringi irama musik dangdut yang asoy. Goyang terus...

Lomba kelereng: bawa kelereng pakai sendok yang digigit. Ayo jangan curang.

Lomba basket: masukin bola ke ring. Bisa masukin berapa dalam lima kali lemparan? Wuidih si Luthfi sampai kena euforia di bawah ring.

Lomba rafia: masukin rafia ke lengan baju terus disalurin ke temen satu kelompok. Teruuuus sampai muter.

Lomba masukin pensil dalam botol. Masnya kelihatan sumringah. Haha.

Lomba komunikata. Pesan yang harus disalurkan adalah "tak keplak gupak glepung". Nah loh coba ucapin berulang-ulang. Pas lomba ini, saya sudah selesai masak lho.

Duh ceria banget ya? Hayo coba temukan kelompok Maxiimal diantara orang-orang ini. Hehehe.

Masih ingat Kemal yang saya tulis di Social Care Hari Pertama? Saya seneng sekaligus terharu lihat dia seneng, ceria, dan aktif. Nggak kayak di hari pertama yang diem dan nggak mau ngomong sama sekali. Itu foto dia lagi main balon (baju abu-abu) bersama Sodin.

Games-games selesai sebelum sholat Jum'at. Selama anak laki-laki sholat Jum'at, kami para cewek (saya, Ariany, Dalilah, dan Cacak) bisa leyeh-leyeh di kantor. Ah akhirnya... Bahkan si Dalilah dan Ariany sampai tidur. Hehe.

Next, setelah sholat Dhuhur, kami mengadakan nobar (nonton bareng). Memang sudah direncanakan sejak awal sih. Medianya menggunakan laptop Luthfi dan proyektor pinjaman dari kantor ibu saya. Awalnya sempat bingung cara ngoperasiinnya (bayangkan! Saya salah bawa manual! Yang kebawa malah manual treadmill. -_-). Tapi Alhamdulillah akhirnya bisa. Oh, iya, filmnya Three Idiots. Kenapa pilih film ini? Dalilah bilang sih memotivasi banget. Ada yang belum nonton?


Saat Ashar filmnya belum selesai. Rencananya mau dilanjut besoknya.

Hmm... Di hari keempat, ada parade film dan rujak party lho. Mau tahu film apa aja yang diputar? Gimana model rujak party? Dan kemana Jujuk di hari terakhir? Tunggu di posting hari keempat ya.


-anggi-
2 Jan 2012
20:41

NB: Untung panti asuhannya punya lapangan yang cukup luas ya?




Social Care Hari Kedua; Get Suwung Away

Sabtu, 31 Desember 2011

Recommended untuk baca dulu Social Care Hari Pertama. :)

Hari itu tanggal 22 Desember 2011 alias hari ibu. Tapi kelompok Maxiimal sama sekali nggak mempersiapkan kegiatan apapun yang berkaitan dengan hari ibu. Boro-boro kegiatan berkaitan hari ibu, kami malah berencana kegiatan hari itu masih sama dengan hari yang sebelumnya. Lagipula pengurus panti mengadakan kerja bakti. Jadi nggak ada acara yang spesifik dari kelompok Maxiimal.

Conduct Your Emotion to The Grass
Setelah sholat Dhuha, kegiatan kami kerja bakti membersihkan halaman panti. Bersama anak-anak Ikhmal, kami mencabuti rumput. Karena saya pikir di berbagai tempat yang namanya mencabuti rumput itu sama, nggak usah saya jabarin ya. Hehe.

Kiri: Luthfi (putih) dan Jujuk (biru). Kanan: Saya (ijo) dan Ariany (biru). Tengah: bapak panti.

Ada Dalilah juga lho (kanan putih)

Waktu itulah saya baru tahu kalau Dalilah takut kodok dan suka banget lihat putri malu (Mimosa pudica). Haha. Oh iya, Cacak nggak ikut kerja bakti karena hari ini giliran dia masak.

More Than Words
Bukannya ramai kayak hari sebelumnya, hari kedua ini cuma sedikit yang mau keluar kamar. Bahkan yang ikut sholat Dhuha pun sedikit. Akhirnya kami memutuskan untuk main Scrabble (yang ikut pun nggak seramai Scrabble hari pertama).

Dari kiri: Cacak, Ariany, saya, dan Jujuk. Yang tiduran itu Mas Agus.

Beberapa anak Ikhmal yang ikut Scrabble. Dari kiri: Ilham, Sodin, Roqim, dan Anas.


Saat itu saya baru tahu kalau ternyata banyak anak Ikhmal yang sakit flu, jadinya nggak bisa ikut kegiatan. Dan mungkin juga masih pada capek setelah kerja bakti.


Zenith
Seusai Dhuhur, kami benar-benar kehabisan ide ingin melakukan apa. Kebanyakan anak Ikhmal malah tidur. Ya saya bisa maklum sih. Apalagi siang itu anginnya semilir banget. Saya juga jadi ikutan ngantuk. Sayangnya nggak boleh ketahuan tidur pas social care. Hmm.

Ada beberapa anak Ikhmal yang baca koran juga sih. Saya, Ariany, Cacak, dan Dalilah ikutan baca di meja depan kantor. Sedangkan Luthfi dan Jujuk main musik di aula.

Dari kiri: Ariany, Dalilah, saya, Sodin, Huda, dan Ilham.

Tahun lalu Ikhmal 2 juga dijadikan tempat social care. Saya tanya sama Huda kegiatan mereka ngapain aja. Dia bilang ngadain games-games. Pas itu saya dibisiki Cacak kalau di foto kelompok social care tahun lalu, anak-anak Ikhmal pada bawa hadiah. Akhirnya kami berencana untuk mengadakan games besoknya. Bukan cuma games, tapi rencananya ada hadiah untuk yang menang. Boleh sih. Nah daripada suwung kayak begini?

Saya juga minta maaf sama Huda untuk kesuwungan hari ini. Dia malah bilang, "Aku juga minta maaf ya, Mbak. Tadi malah aku tinggal tidur." Eh, kok ngaku?

Tak lama kemudian, Sodin, Huda, dan Ilham balik ke kamarnya. Dalilah dan Ariany malah mulai saling curhat. Akhirnya saya dan Cacak bergabung dengan rombongan Luthfi-Jujuk di Aula. Ternyata disana lumayan ada banyak anak. Ada yang main gitar, ada yang main catur. Tapi dengan santainya si Jujuk malah tidur. -_-

Kelas gitar dadakan oleh Luthfi. Yang di kiri Luthfi namanya Febi. Yang didepan Luthfi namanya Arif.

Saya dan Cacak ikut-ikutan main catur padahal sama-sama nggak ngerti catur. Waktu saya coba main catur versus Cacak, malah diketawain. Masalahnya kita mainnya maju mundur. Hahaha. Anehnya, pas giliran Cacak main, Jujuk ngasih tahu harus jalan kemana (Jujuk udah bangun). Tapi pas giliran saya yang main, Jujuk juga ngasih tahu saya harus jalan kemana. I, ini bukannya sama aja Jujuk main sendirian ya?

Piket
Yak, seperti biasa sehabis Ashar pasti piket. Hari ini saya dapet bagian bersihin aula. Setelah piket, kelompok Maxiimal rapat dulu di office membahas games-games untuk besok. Ada enam lomba lho. Mau tahu? Baca posting hari ketiga ya.



-anggi-
1 Jan 2012
13:20

NB: Ini udah tahun 2012 ya?


 

2009 ·Semanggi 4 Jari by TNB