My Dearest School

Jumat, 18 November 2011


Sudah banyak orang Semarang yang tahu kalau SMP 2 Semarang dan SMA 3 Semarang itu sudah ada sejak zaman Belanda. Saya juga sudah tahu sih, tapi sewaktu dulu ada foto jadul kedua sekolah itu di Museum Ranggawarsita, tetep aja kagum. Apalagi itu sekolah saya. :)


Kebetulan sewaktu ngubek-ubek file, ada foto ini. Pamer deh.



-anggi-
19/11/2011
14:02

Cerita Si Bosan Daging

Selasa, 08 November 2011

Idul Adha sudah berlalu sejak dua hari yang lalu. Alhamdulillah saya ikut sholat Id dan ada sejumlah hewan ternak di masjid dekat rumah saya. Hehe. Seperti biasa, keluarga saya dapat daging kurban (entah mengapa. Mungkin karena dagingnya sisa banyak). Dan sudah terhitung tiga hari sejak hari raya itu ibu saya masak daging. Ya tentu dong saya juga makan berlauk daging pula.

Saya bukan pecinta daging sih. Jadinya agak eneg juga tiap hari makan daging. Tapi saya tahan-tahanin lah sampai daging di rumah habis semua. Kagak tega sama ibu dan orang-orang. Gimana enggak, banyak yang pengen makan daging kok ya saya ngeluh cuma gara-gara bosen.

Meski bagitu, waktu hari ini ibu nggak ada di rumah, saya diem-diem bikin mi. Nah gimana ya, eneg maksimal sih. Hehe. Eh, tau-tau si adik dateng. Dia bilang, "Bikin mi, Mbak?"

Saya ngangguk terus bilang, "Agak bosen makan daging."

Nah malah si adik curhat, "Sakjane* aku juga, tapi pas kemarin bilang bosen daging malah dimarahi ibu." Dan dengan innocent-nya dia ambil piring sama nasi, terus makan pake lauk daging lagi.

Ahahahaha. Maaf ya adik. Lain kali sabarlah dikit biar bisa dapet mi. XDD




-anggi-
8/11/2011
19:12

Borobudur Tells Something (part 2)

Sabtu, 22 Oktober 2011

Well, yah. I'm here after longing so long. I don't really know why I come back too late. I'm sorry. Better late than never, right? Okay, let's continue discussing about our great heritage which save its own story. What else? It's Borobudur!

Kalau di part 1 kita sudah membicarakan relief, mari kita bicarakan hal yang betul-betul tiga dimensi sekarang. Hmm... Let me see. Sebenarnya sangat buanyaak benda-benda tiga dimensi di Borobudur, seperti arca dengan berbagai macam bentuk dan arsitektur seni terapan lainnya. Namun karena keterbatasan sumber, saya hanya akan membahas arca Budha, arca singa, dan saluran pembuangan air. Check it out!

Arca Budha



Ya pasti sudah pada tahu dong di candi ini banyak sekali arca Budha. Namun ternyata masing-masing arca punya keunikan lho. Mau tahu keistimewaannya? Coba lihat posisi tangannya. Itu tuh yang mengarah ke bawah. Arca dengan posisi tangan seperti itu ada di sisi candi bagian timur (kalau nggak salah. Hehe. Maaf... Maaf... Lupa). Nah kalau di sisi barat sudah beda lagi. Apalagi di sisi selatan dan utara.

Arca Singa

'

Tidak hanya di China, di Jawa pun singa juga sering dibuat arca. Tapi tentu aja beda. Coba perhatikan gambar arca singa di Borobudur (atas) dengan patung singa versi China di bawah ini.


sumber: lolosad.com

Bagaimana? Beda kan? Singa versi China digambarkan dengan banyak ornamen China dan muka garang. Sedangkan singa versi Jawa digambarkan dengan ornamen dan tata rambut ala Jawa dan muka dengan toothy smile. Menurut Pak Agus (tour guide saya waktu itu), hal tersebut menggambarkan pribadi masyarakat setempat waktu itu ramah dan murah senyum. Seperti orang Indonesia dulu hingga nanti kan?

Saluran Pembuangan Air
Tadi sudah saya katakan, selain seni murni seperti arca, ada juga seni terapan. Seperti pembuangan air yang dibentuk seperti kepala singa ini.



Jadi semisal hujan deres, air nggak akan menggenang karena dibuang/ disalurkan lewat sini. Airnya keluar lewat mulut singa yang terbuka. Nah hal tersebut menunjukkan bahwa waktu itu tidak hanya seni, tapi juga arsitektur sudah maju.


Hmm... Kaya sekali ya budaya kita. Ini aja baru satu candi dan sudah menyimpan banyaaaak sekali cerita. Ini aja baru di Jawa Tengah, belum di Jawa yang lain atau pulau yang lain. Ini aja baru di Indonesia, belum di belahan dunia yang lain. Oh, manusia memang unik.

Katakanlah: "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. ..." (Ar-Ruum : 42)



-anggi-
Sabtu, 22 Okt 2011
21:06 WIB

Borobudur Tells Something (part 1)

Kamis, 30 Juni 2011

Siapa sih yang nggak tau Candi Borobudur? Saya yakin sebagian warga dunia pun tahu. Candi Budha ini pernah masuk dalam 7 Keajaiban Dunia. Maka dari itulah dia cukup terkenal.



Saya sudah pernah kesana 3 kali lho. Pertama waktu masih kecil, jadi cuma ingat samar-samar kalau Borobudur bertuknya mblenduk-mblenduk. Kedua pas SMP dan waktu itu saya sudah sadar kalau orang-orang zaman Dinasti Syailendra pasti bangga bisa membangun candi ini. Ketiga pas SMA (liburan Waisak tahun ini lho). Saya belum pernah bosan pergi kesana. It's so amazing! Hebat buanget! Apalagi setelah tahu cerita-cerita di dalamnya. Hmm... Disini saya tidak ingin bercerita tentang letak, pemugaran, dll-nya (itu sih ada di Wikipedia), tapi relief dan stupa. Ingat, RELIEF dan STUPA.

Untuk awalan, perlu diketahui bahwa Candi Borobudur itu dulunya adalah sekolah. Nah, tingkatan candi (Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu) sebenarnya juga semacam tingkatan kelas. Sedangkan relief-relief di dinding candi merupakan bahan yang diajarkan. Tapi jangan dikira kita bakal menemukan ukiran rumus s=v.t atau sistem periodik unsur ya. Hehehe. Yang diajarkan di sekolah ini adalah filsafat. Anyway, tahu kerajaan Sriwijaya kan? Yang sudah lulus dari sini, bisa dikirim ke sana lho.

OK. Berikut adalah sebagian kecil dari relief di Candi Borobudur (kalau semua, yakin deh nggak cukup waktu sehari untuk nulis postingan).

Kapal Samudra Raksa


Relief kapal ini menunjukkan kalau dari dulu bangsa kita memang bangsa maritim dan nenek moyang kita memang pelaut. Horeee! Menurut cerita di relief, kapal ini sudah pernah berlayar di Samudera Hindia hingga mencapai Madagaskar dan Ghana. FYI, seseorang (kalau nggak salah Philip Belae) mencoba membangun kembali kapal ini. Kapal bangunannya itu sekarang ada di Museum Samudra Raksa Borobudur.

Pohon Kalpataru

Orang-orang zaman dahulu menjadikan pohon Kalpataru sebagai simbol green peace. Coba ingat! Apa nama penghargaan yang diberikan kepada orang yang berjasa pada lingkungan? Yak betul, Kalpataru! Mungkin ini asal usulnya ya? Hehehe. Oh, iya. Diceritakan juga pohon Kalpataru ini dijaga oleh dewi yang berbadan burung.

Cerita Raja yang Budiman

Di salah satu bahan yang diajarkan di Borobudur, ada sebuah cerita tentang seorang raja yang memberikan matanya. Begini ada seseorang yang buta dan ia ingin menguji kearifan raja di negerinya. Dia mendatangi raja tersebut dan memohon bantuan. Tak disangka, dengan kerendahan hatinya sang raja memberikan matanya untuk orang buta tersebut. Cerita ini bernilai moral seorang pemimpin yang tidak memikirkan dirinya sendiri dan dekat dengan rakyatnya.

Tapi setelah saya melewati relief ini saya jadi berpikir. Kenapa raja itu tidak memberi bantuan medis saja ya? Kalau mata, kan belum tentu si orang buta itu secakap dirinya. Hahaha. Ah, namanya juga cerita.

Eh, foto relief itu dilihat dari kiri ke kanan ya.

Berbagai Macam Posisi Tangan

Posisi tangan yang seperti ini berarti ketenangan dan penuh ide. Tiga jari yang berdiri melambangkan skill, work, dan power. Sedangkan dua jari yang membentuk lingkaran melambangkan lingkaran sukses bila skill, work, dan power ini jadi satu. Filsafat sih...


Pemberian rencana yang baik. Di foto relief (kanan) menceritakan seorang raja yang sedang memberikan penjelasan dan rencana yang baik, bukan seperti diktator yang menunjuk-nunjuk.


Kalau tangan yang seperti ini berarti memberi penghormatan. Saya pikir, yang terakhir ini sudah umum ya? Jadi cukup menangkupkan dua tangan sudah menandakan penghormatan kepada lawan bicara. FYI, sebegian besar orang Asia menggunakan posisi tangan ini.

At last...
Semakin ke atas, semakin relief-relief di dinding candi berkurang. Mengapa? Karena orang-orang percaya semakin tinggi tingkatan seseorang, semakin tidak ada apa-apa lagi. Lihat aja di tingkatan candi paling atas nggak ada relief sama sekali kan? Yang ada hanya stupa mengarah ke atas yang menandakan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.



Nah itulah sebagian kecil (banget) penjelasan dari relief-relief yang ada di Candi Borobudur. Bagaimanapun juga, filtering dulu ya. Yang sesuai atau baik dijadikan pembelajaran dan yang kurang sesuai digunakan sebagai wawasan saja. Sungguh amazing kan nenek moyang kita? Semoga kejayaan zaman dahulu bisa terulang bahkan lebih baik lagi. Amin.

Oh iya. Cerita tentang stupa-stupa di part selanjutnya ya. Thank you...



-anggi-
1 Juli 2011
11.43



NB: Penjelasan di atas tadi sumbernya dari Pak Agus, salah satu tour guide di Borobudur. Kalau ingin menyewa guide, siapkan uang sekitar 75 ribu dan have a nice trip!

Thirty Five In One

Kamis, 28 April 2011

I never thought my second year in SMA 3 Semarang will last next June. Why is it so fast? Besides there will be 10 days with UKK (Ulangan Kenaikan Kelas), I will be in third grade for sure. Aaaaah~ I have not ready yet.

And~

My fun classmates will be separated. We will get new classmates. Uh... I'll surely miss you, guys. Every moment passed will be memorized in my heart (insya Allah. hehehe). Introducing ourselves to each other, facing dementor (hehe), togetherness on Ramadhan, having fun in Bali, getting dark aura in History 1, Ligasha moment, also Smaga Cup, dramas, having same jackets, and many many many more things I can not mention one by one. If I had had long arms like Luffy, I would have hugged you all. :D

I do wish to close this semester with happiness. So, where ever we will go for "farewell", whether staying a night together or just walking around in a day full, the most crucial is our togetherness, right?


Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That's what friends are for
For good times and bad times
I'll be on your side forever more
That's what friends are for
(Stevie Wonder - That's What Friends Are For)



P.S. Always count on me? Insya Allah ya. On your side forever more? Nothing lasts forever. Hehe.



-anggi-
dedicated for XI IPA 6 SMA 3 Semarang 2010/2011
April 28 2011
9:38 PM

Ranah 3 Warna; 3 Negeri Berbeda

Senin, 04 April 2011

UTS telah berlalu, Kawan. Yei!

Tahu tidak? Kadang-kadang jenuh juga belajar seharian. Di dalam kamar, di depan meja, buku-buku terbuka, pensil berserakan, dan ditemani segelas teh. Bosan. Namun tentu saja saya tidak tenggelam dalam kebosanan (menyiksa diri mah itu namanya). Kebetulan sebelum UTS berlangsung, saya sempat ke Pesta Buku Murah di Gedung Wanita dan mendapatkan novel 473 halaman ini (dengan harga cukup murah lho). Ranah 3 Warna.

Novel karangan Ahmad Fuadi ini merupakan seri kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Ya cara-caranya volume dua gitu deh. Saya tahu novel ini gara-gara Birru (kelas X-4), temen di KPS-Kapa, minjemin novel Negeri 5 Menara. Ceritanya bagus banget deh. Tentang perjuangan meraih mimpi gitu. Intinya ya kalau punya mimpi harus dicapai. Alif, tokoh novel ini, semangatnya terpompa oleh kalimat man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil). Kehidupannya di Pondok Madani yang jadwalnya ketat pun dapat terlewati.

Nah, itu sekilas dari Negeri 5 Menara. Ranah 3 Warna tetap masih punya hubungan dengan Negeri 5 Menara. Kalau di Negeri 5 Menara menceritakan Alif ketika di Pondok Madani, Ranah 3 Warna menceritakan Alif ketika sudah lulus dari Pondok Madani. Menurut saya, biarpun pembaca belum membaca Negeri 5 Menara, masih tetap bisa mencerna Ranah 3 Warna kok.


Cerita di novel ini diawali dengan kembalinya Alif ke kampung halamannya di Maninjau. Dia ingin sekali ikut tes UMPTN (kalau sekarang namanya SNMPTN) untuk kuliah di Bandung. Awalnya dia pesimis, tapi dari sinilah perjuangan Alif sudah nampak. Berbagai macam buku SMA dia pelajari. Bayangkan! Mempelajari pelajaran kelas X hingga XII dalam waktu singkat? Ckckck. Walaupun dapat nilai pas-pasan di ujian persamaan tingkat SMA, Alif berhasil lolos UMPTN. Alif diterima di HI Unpad.

Nah, kehidupan Alif di Bandung inilah yang membuat saya bertambah semangat ketika membacanya disela-sela beralajar untuk UTS. Dengan biaya pas-pasan, Alif terus belajar dan tak kenal lelah. Alif juga sering mengalami defisit sehingga dia sempat harus berjualan kosmetik door to door. Impiannya menerbitkan artikel di koran terwujud setelah berkali-kali berjuang belajar kepada Togar Perangin-angin, penulis bertangan dingin yang galak. Bahkan Alif mendapat kesempatan untuk menjadi penulis rutin di suatu koran. Bagian ini mengajarkan bahwa man jadda wajada saja tidak cukup, harus diiringi dengan man shabara zhafira (siapa yang sabar akan beruntung). Jadi, setelah susah berusaha, sabarlah akan apapun yang terjadi.

Puncak berjuangan Alif di novel ini adalah ketika dia mengikuti semacam tes pertukaran pelajar. Dengan sedikit diplomasi dan sempat hampir ditolak, akhirnya Alif berhasil lolos dan berangkat ke Kanada. Dalam perjalanan ke Kanada, rombongan Alif transit ke Yordania yang bertanah gurun. Inilah tanah ke-2 yang dimaksud penulis. Di bagian akhir, penulis menceritakan kehidupan Alif di Kanada yang indah, ramah, seru, menyenangkan, ya seperti itulah. Ini lagi-lagi memacu semangat saya. Siapa tahu kan saya bisa meraih impian saya sama seperti Alif? Hehehe.

Bahasa di novel ini tidak berbelit-belit dan banyak kosakata baru tanpa harus membingungkan pembaca. Banyak juga penjelasan tentang berbagai macam hal. Kehidupan tokoh pun rata diceritakan, tidak melulu berhasil juga tidak melulu gagal. Istilah-istilah yang diciptakan pun cukup menggelitik, seperti Si Hitam, Kesatria Berpantun, Rumah Sakit Malas, dan lain sebagainya. Namun deskripsi tentang tempat atau barang yang asing cukup membuat saya bingung. Contohnya saja sewaktu menceritakan Roman Theater di Yordania atau letak sungai dengan rumah Alif di Kanada. Satu lagi, walaupun nuansanya islami, bahasa yang digunakan cukup universal.

Pokoknya novel ini bagus deh. Recommended for everyone! Terutama untuk anak-anak SMA yang lagi suka galau atau suwung. Haha, kayaknya dua "penyakit" itu sering "menyerang" anak-anak SMA deh.

Penasaran kan dengan novel Ranah 3 Warna ini? Beli dong... Eh, atau minjem juga boleh ding.



-anggi-
04/04/2011
8:52 PM

Negeri di Awan

Rabu, 30 Maret 2011

Oh, saya baru sadar akan suatu hal. Ini menyangkut Negeri di Awan yang menawarkan ketentraman. Ini menyangkut Negeri Khayalan yang penuh keindahan.

Sebenarnya tidak salah mengharap ketentraman dan keindahan dari negeri-negeri itu. Tidak... Sama sekali tidak. Pertanyaannya adalah apakah kita benar-benar mengharap hal-hal indah itu untuk diwujudkan di dunia nyata atau hanya mengharap kita masuk ke Negeri di Awan. Mana yang kamu pilih? Hati (belum yang terdalam sih) saya mengaku memilih membawa hal-hal indah itu ke dunia nyata. Kenyataannya, dia hanya mengaku, belum meresapi. Semakin hari, dia lebih condong ke pengharapan datangnya Negeri di Awan.



Secara personal, saya mulai berpikir seharusnya kitalah yang membawa aura Negeri di Awan ke dunia nyata, bukan malah kita yang ingin masuk ke sana. Mengapa? Karena jika hanya menunggu negeri itu datang, kita tak akan tahu. Hanya menunggu. Terus... Terus... Terus menunggu. Kapan kita akan meraih mimpi setinggi awan jika hanya berdiam menunggu?

Keindahan awan memang melenakan. Keindahan yang seharusnya kita lihat sejenak saja untuk kembali lagi hidup di bumi. Mari, bersama-sama meraih salah satu bagian Negeri di Awan untuk kita bawa pulang.

Kau nyanyikan untukku
sebuah lagu
tentang negeri di awan
dimana kedamaian menjadi istananya...
(Katon Bagaskara - Negeri di Awan)

-anggi-
30/03/2011
4:32 PM
 

2009 ·Semanggi 4 Jari by TNB