Antara CO2 dan CO (part 2) : Gas Pembunuh

Sabtu, 22 Mei 2010

Ohayou Gozaimasu!
Minggu pagi...Matahari bersinar cerah...

Well, berhari-hari yang lalu saya sudah bercerita tentang karbon dioksida yang bisa 'membunuh' manusia secara perlahan. Nah, ada lagi yang lebih mengerikan nih. Temennya karbon dioksida ini adalah penjahat tulen. Dia adalah karbon monoksida (CO).

Mengapa penjahat tulen?
Hmm... Dalam jumlah yang sedikit pun gas ini bisa mengganggu kerja hemoglobin (sel darah merah) yang tugasnya mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Secara tubuh kita juga butuh oksigen dong. Akibat fatal dari kekurangan oksigen bisa berakhir dengan kematian. Bahkan di Amerika Serikat, penyebab utama kematian akibat keracunan ya gara-gara gas CO ini.

Dari mana sih itu anak?
Jadi gini, gas karbon juga mengalami pembakaran dan bereaksi dengan oksigen. Kalau pembakarannya sempurna akan menghasilkan karbon dioksida (CO2). Kalau tidak sempurna ya hasilnya CO. (Jangan tanya tentang CO3! Bakalah panjang masalahnya. Bahas CO2 dan CO dulu ya)

Nah, pembakaran tidak sempurna itu pembakaran apa? Biasanya sih si karbon kekurangan oksigen. Jadi dia cuma mengikat satu oksigen jadilah CO.

Contoh pembakaran tidak sempurna adalah hasil dari pembakaran saat pertama kali menyalakan mobil, merokok, tungku kayu bakar, kompor batu bara, dll. Kalau pembakaran-pembakaran itu dilakukan di ruangan tertutup, pasti karbon akan kekurangan oksigen untuk diikat. Maka dari itu, kalau menyalakan mobil pintunya jangan ditutup ya.

Akibatnya mengerikankah?
Oh ya pasti. Dalam sebuah kemacetan lalu lintas, kadar karbon monoksida di udara dapat meningkat sampai menimbulakan gangguan kesehatan (letih, sakit kepala, mual), atau lebih berbahaya lagi.

Mau yang lebih ngeri? Baca lagi dari atas! =D


Sumber : Einsten Aja Gak Tau! by Robert L. Wolke; buku-buku Kimia kelas X.

Antara CO2 dan CO part 1

Rabu, 28 April 2010

Hooo laaa... Lama tak buka blog. Ya, mungkin gara-gara kegiatan semester 2 yang bikin puyeng. Aduh.. Tapi, tetap semangat!

Well, saya mendapatkan pelajaran tentang karbon (C). Eh, setelah itu saya menemukan hal-hal tentang karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO) di buku Einsten Aja Gak Tau! oleh Robert L. Wolke. Ya kebetulan CO2 dan CO juga dibahas di alkana, yaitu salah satu rantai hidrokarbon (senyawa yang mengandung karbon dan hidrogen).

atom karbon yang punya 4 tangan untuk mengikat unsur lain.

Keduanya sama-sama gas berbahaya, tetapi dalam cara yang sangat berbeda. Karbon dioksida dihasilkan dari oksidasi (reaksi yang membutuhkan O2) sempurna sebuah senyawa alkana, sehingga menghasilkan karbon dioksida dan air. Lalu karbon monoksida dihasilkan dari oksidasi yang tidak sempurna. Tapi sempurna atau tidak sempurna, keduanya sama berbahaya.

Di atmosfer biasanya ada sedikit karbon dioksida. Biasanya sih berasal dari gunung berapi, tumbuhan dan hewan yang mati, pembakaran batu bara dan minyak bumi, dan dari pembukaan kaleng-kaleng atau botol-botol minuman bersoda (yang ini penyumbang karbon dioksida terbanyak). Bahkan 5 miliar kg karbon dioksida dihasilkan setiap tahunnya dan ini masih di Amerika saja. Dari 5 miliar ini banyak diantaranya berasal dari delapan milyar peti minuman ringan karbonasi dan 180 juta barel bir yang dinikmati oleh orang Amerika setiap tahun.

Karbon dioksida memang bukan racun secara langsung. Masalahnya adalah gas ini selain tidak mendukung proses pembakaran atau pernapasan, bisa jadi gas ini memetikan api ataupun makhluk hidup. Karena karbon dioksida lebih berat daripada udara, gas ini akan "tumpah" berkumpul di lapisan paling rendah, bergantung seperti selimut tak kelihatan, menggantikan udara dan membuat apapun yang dilingkupinya MATI LEMAS. Ini pernah terjadi di Cameroon, Afrika, pada tahun 1986 ketika Danau Nios tiba-tiba menyemburkan sekitar enam ratus ton gelembung gas karbon dioksida dari aktivitas vulkaniknya dan membuat lebih dari tujuh ratus orang mati lemas ditambah satwa yang tak terhitung jumlahnya.

Selain itu, karbon dioksida juga menyebabkan greenhouse effect yang menyebabkan global warming. Efek ini membuat bumi menjadi seperti rumah kaca yang menyimpan panas di dalamnya. Akibatnya bumi menjadi panas.

Akibat lanjutannya, es di kutub bisa jadi mencair dan laut menjadi semakin luas. Ya seperti yang ada di film The Day After Tommorrow itu lho....

Ngeri ya? Oleh karena itu, ayo kurangi karbon dioksida!




Sumber : Einsten Aja Gak Tau!, materi-materi Kimia kelas X semester II.
Gambar : bikin sendiri lho. kilat!

Cooking Class dan Sakit Perut

Senin, 01 Maret 2010

Mungkin waktu baca judulnya, pada kepikiran kalau habis masak-masak terus kebanyakan makan alhasil sakit perut deh. Iie! No! Tidak! Bukan seperti itu.

Well, cerita ini terjadi hari Sabtu kemarin tanggal 27 Februari 2010. Teman saya pun sudah memposting cerita ini (sesuai sudut pandang dia tentunya). Bukannya saya ingin meniru, tapi hanya ingin melengkapi sesuai sudut pandang saya. Hehehehe...

Oh, iya. Lebih baik baca dulu cerita cooking class versi teman saya dulu ya. Ini link-nya.

Di situ sudah diceritakan kalau saya dan teman-teman les Bahasa Inggris saya di LIA pergi ke Maura. Itu tuh, toko roti yang ada di Jalan Pierre Tendean (yang pasti di kota Semarang. XD). Kata guru saya, Miss QQ, tujuan kami kesana memang buat refreshing. Hmm... Okelah kalau begitu.

Saya kira bakal ada lempar-lemparan tepung, masuk ke dapur Maura, lihat oven, yaa.. something like that. Tapi ternyata tidak. Sampai di Maura kami langsung dibawa ke ruangan yang ada meja-mejanya yang terletak di lantai 3. Per meja ada sekitar 5 atau 6 kursi. Saya semeja dengan beberapa teman saya yaitu Annisa, Mbak Sari, Mbak Dennisa, Rani, Tata, dan Mbak Syifa. Saya kira habis ini bakal diajarin buat adonan kue. Eh, ternyata malah adonannya sudah jadi dan kami tinggal menghiasnya saja.


Inilah roti bikinan saya. Saya menyebutnya roti ulet. Hihihi.
Setelah ini tinggal dioven. Eh, mejanya bersih lho. Menggiling adonan di meja pun tak apa.
Oh iya, Maura juga menyediakan mesis dan kacang untuk menghias.


Setelah bikin roti ulet, ada kejadian yang menyebalkan. I got stomachache! Oh My God! Padahal masih ada spageti dan cookies yang menunggu. Ah, tapi perut ini tak bisa diajak berdiskusi. Langsung saja saya izin pulang.

Miss QQ yang ada di lantai 2 langsung menanyai saya, "Pulang sama siapa?". Saya jawab, "Sendiri.". Miss QQ bilang lagi, "Are you sure?" dengan wajah yang serius. Kayak saya emang sakit parah aja, ih. Hihihi..

Ternyata saya memang sakit agak parah. Sampai rumah saya langsung tak berdaya terkapar di kamar. Saya sempet baca SMS dari Annisa yang isinya, "Gimana, Nggi?". Tapi apadaya kepala sudah terlanjur berat. Anyway, ibu memberi suatu ramuan yang katanya manjur. Katanya, "Nih, minum. Ini obat cap kupu-kupu."

Hah? Kupu-kupu? Pikiran saya sempat melayang untuk mengingat obat apa yang ada gambar kupu-kupunya. Aduuuh... Dan tahu nggak? Sampai sekarang saya belum tahu itu obat apaan. Hihihi...

Hari Senin kemudian, Annisa membawakan roti ulet yang sudah dioven. Taraaa... Inilah jadinya...


Roti ulet! Hahahaha. Menurut saya malah seperti siput tanpa cangkang.
Aslinya sayang buat dimakan. Tapi bodo amat ah. Sikaaat!



Hei! Nama di kardusku dobel 'n'!

Hmm... Kalau mau tahu tentang Maura, klik aja ini. Maura.


Cinemact, Karya Anak-anak Hebat!

Sabtu, 20 Februari 2010

Hari Rabu, 17 Februari lalu teman saya, Shabrina, mengiklankan program yang diadakan ekstrakurikulernya yaitu sinematografi. Tahu kan sinematografi? Itu lho, ekskul yang biasanya buat film...

Shabrina bilang kalau akan diadakan Cinemact (Cinema in Action). Dari judulnya pun sudah pasti diketahui itu acara nonton bareng. Menariknya, film-nya adalah film buatan anak-anak sinematografi. Ada SKJ (Sandal Karo Joni), When The Tea Tells Somethings, dan Cakra Indigo. Dan tiketnya pun bisa dibilang cukup murah dengan harga 5000 rupiah saja.


Aku dan tiketku.
hihihihi. udah lecek.



Mau tidak mau (sebenarnya saya sangat mau) saya menonton film-film itu. Apalagi itu wajib karena setelah itu kami ditugaskan untuk membuat sinopsis (ada-ada saja). Alasan lain, saya ingin melihat film yang semua crew, termasuk aktor dan aktrisnya, adalah teman-teman saya. Hihihihi.

Yap, film itu diputar pada hari Sabtu, 20 Februari 2010. Saya menonton di sesi 3 atau jam 2 siang. Oh, iya. Kenapa dibagi per sesi? Itu karena ruang multimedia yang dijadikan TKP hanya bisa menampung kurang lebih 100 orang. Padahal murid-murid SMA 3 bejibun banyak aje gile kayak gitu. Hahahaha.

Paginya saya tetap ikut ekskul tenis dan mochi (Bahasa Jepang) hingga pukul 12.30. Hari Sabtu memang hari ekskul di SMA 3, kan? Saya bersama Selma cuma muter-muter smaga dari pukul 12.30-14.00. Habisnya nggak ada kerjaan sih. Kalaupun ada, pasti itu cuma bolak-balik ke kantin, baca komik, dan duduk-duduk nggak jelas di depan koperasi (itu tempat yang adem). Tapi akhirnya saya bertemu Annisa dan Gardin walaupun sebentar. Berikut ini adalah hasil kerjaan orang kurang kerjaan (baca : kami berempat) :


Berimajinasi sedang membuat iklan itu bagus. Dan inilah hasilnya, iklan HP Nokia Supernova punya Gardin. Setting : taman di depan masjid smaga.

Next, it's time to the movie!

SKJ (Sandal Karo Joni)
Bercerita tentang seorang anak bernama Joni dan temannya, Maman. Joni punya sandal warna pink yang katanya bisa membawa keberuntungan. Secara kebetulan pun Joni mendapat keberuntungan beruntun! ('keberuntungan' yang didapat Joni ini agak wagu sih. Tapi lucu. Hahaha.)

Namun secara tak sengaja Maman menjatuhkan sandal Joni itu ke sungai ketika mereka memancing. Joni pun menjadi sedih dan secara kebetulan (lagi) dia tertimpa sial! Benarkah sandal si Joni itu berpengaruh pada pemiliknya?

Ternyata tidak. Dihari yang sama (saat itu Joni memakai sandal Maman), Joni berhasil menyelamatkan seorang gadis yang dicopet. Ternyata, si gadis itu adalah kakak dari orang yang ditaksir Joni. Hahahaha.

Pendapatku : simpel tapi bagus. Alurnya ringan tapi mudah dimengerti. Pemain-pemainnya pun bermain bagus (terutama Maman menurutku). Dan tahukah kamu? Film ini disutradarai oleh Shabrina! Keren kan? Temen saya, Citra, juga jadi salah satu pemainnya lho... Eh, film ini banyak adegan yang pakai Bahasa Jawa lho..

When The Tea Tells Something
Bercerita tentang seorang remaja putri yang diculik oleh seorang remaja putra. Nampaknya remaja putra ini hanya orang suruhan. Terbukti dari telepon yang datang dari orang yang ia panggil 'bos'.

Namun orang suruhan ini sangat baik. Ia merawat luka cewek yang diculik itu. Ia juga rajin membuatkan teh untuk cewek itu. Dan dari teh itulah ada suatu perasaan yang muncul (weleh, kok bahasanya jadi kayak gini?). Saya pikir karena itulah judul film itu When The Tea Tells Something. Ada 'something' dateng dari teh! Haha. Ajaib.

Pendapat : konsepnya bagus, film tanpa dialog panjang (seperti drama Korea kalau saya bilang). Tapi endingnya saya nggak begitu ngerti (jujur). Ya kalau bisa sih mending pakai sedikit dialog untuk menggambarkan endingnya. Jangan dipaksakan menggunakan dialog yang sangaaaaaaaaat minim. Oh iya, teman saya, Tya, terlibat dalam film ini.

Cakra Indigo
Inilah film yang paling heboh dibicarakan. Kata Shabrina, film ini yang terbagus. Masuk peringkat 7 di festival film indie lho...

Ceritanya ada seorang anak yang bernama Cakra. Dia indigo. Bisa melihat apa yang akan terjadi. Namun bakat indigonya itu membawanya berhadapan dengan salah satu masalah sekolah.

Di saat dia down, dia berjalan-jalan dengan pacarnya. Bukannya hilang rasa down-nya, tapi malah dapat penglihatan tentang orang gila yang akan ditabrak motor. Dan benar saja, orang gila yang sedang bermain bola itu hapir saja ditabrak motor. Tetapi Cakra yang menyelamatkan orang gila itu malah tertabrak. Ckckckck. Kasihan.

Pendapat : efeknya BUAGUS! Bagus kayak film profesional. Wahahahaha (lebay ya?). Tapi serius, bagus. Sayangnya waktu aku nonton, suaranya nggak jelas. Apalagi ditambah anak-anak yang ketawa lihat akting si Cakra. Hahahaha. Tapi emang lucu sih... Apalagi waktu adegan orang gila. Bwahahahaha. Bikin ngakak. Sok renang di got gitu deh. Hahaha. Oh iya, Mbak Sari terlibat dalam film ini.


dapet teh dan majalah juga lho..

Waktu ngisi komentar, saya hanya menuliskan "good". Hehehe... Maaf ya. Habisnya aku bingung mau nulis apa. Tapi keseluruhan udah bagus kok. Anak-anak SMA 3 (tepatnya yang sinematografi) emang hebat! Maju terus anak-anak Indonesia!


P.S. tanpa sadar saya sudah mengerjakan tugas membuat sinopsis. Hahaha.

57 Detik, Satu Detik Sangat Berharga

Kamis, 18 Februari 2010

Sebenarnya novel ini sudah terbit agak lama, tapi ya tak apalah kalau saya review lagi. Pertama kali saya tahu novel ini ketika saya iseng-iseng browsing novel teenlit. Ketika itu novel ini masih bisa dibilang baru. Saya tertarik karena membaca sinopsisnya. Besoknya ada teman saya, Sidiq, yang berkata kalau dia sudah baca novel ini. Dan dengan pelitnya dia nggak mau minjemin, nyeritain sedikit aja nggak mau. Hmmm... Tapi akhirnya saya bisa membeli novel ini. Weee...

Saya yakin saya pasti belum bisa untuk membuat novel semacam ini. Sangat menjiwai kalau saya bilang. Apalagi menggunakan 3 sudut pandang dari orang yang berbeda. Susah, kan, untuk mebuat seolah-olah kita menjadi 3 karakter yang berbeda? (Maksud saya, bukankah dalam pembuatan novel kita harusnya menjiwai karakter tokohnya? Atau tidak harus? Hehehe. Sayang saya bukan novelis.)

aku dan novelku
bersama kaos pink motif bunga berkerah plus celana pendek kotak-kotak. kostum yang pas buat tidur sih sebenernya.

Tema novel ini juga lain daripada yang lain. Tentang gempa! Aduuuuh. Pertama sih saya sangsi, apakah bisa si penulis menggambarkan suasana gempa dengan kata-kata? Lalu ketika saya baca penggambaran gempa yang pertama kali muncul di novel itu, saya berpikir, "Ah, masa sih gempa seperti itu?" (saya berkata seperti itu karena saya tidak pernah-dan jangan sampai- mengalami gempa). Namun setelah saya baca lebih lanjut, ih, ternyata penggambarannya sangat detil. Apalagi penggambaran tentang waktu. Seseorang telat satu detik saja, bisa jadi dia tertimpa reruntuhan. Hiii...

Bercerita tentang 3 remaja, yaitu Nisa, Aji, dan Ayomi, yang bercerita tentang kehidupan mereka sebelum gempa, saat gempa, dan sesudah gempa. Latar belakang mereka pun berbeda. Nisa adalah seorang anak perempuan pemilik toko kelontong, Aji adalah mahasiswa kedokteran UI, sedangkan Ayomi adalah seorang anak pejabat. Tapi mereka bisa ditemukan di suatu tempat (di rumah sakit) saat gempa. Kala itu Nisa sedang menunggui ibunya yang sedang dirawat, Ayomi sedang dirawat malahan, dan Aji jadi relawan di sana.

Kehidupan setelah gempa pun diceritakan. Bagaimana mereka bertahan di tenda, saling menolong korban gempa, dan menghibur satu sama lain. Semangat 'lain' yang timbul karena gempa juga ada.

Tapi jangan dikira novel ini begitu melankolis. Ada cerita lucunya juga kok. Apa? Rahasia, dong! Kalau saya ceritakan pasti nanti jadi tidak lucu lagi... Hehehe.

Jadi? Anda tertarik untuk membacanya?

Oh, iya! Pengarang novel ini adalah Ken Terate yang juga menulis My Friends, My Dreams; Marshmellow Cokelat; dan Jurnal Jo. Kalau mau tahu tentang Ken Terate, ini link ke blognya. Ken Terate.

It's Not About Valentine...

Senin, 15 Februari 2010

Sudah lama juga saya tidak memunculkan postingan. Hehehehe. Sedangkan hari ini sudah tanggal 16 Februari 2010.

Kenapa ya, saya repot-repot menulis tentang hari Valentine? Padahal tradisi memberi coklat sudah hilang sejak saya kelas 5 SD. Hilang? Berarti dulu pernah ada? Ya, memang pernah sewaktu kelas 3 dan 4 tukaran cokelat dengan teman-teman saya, tetapi ada salah satu pembina pramuka saya bilang kalau memberi cokelat tidak mesti waktu Valentine dan sebenarnya Valentine itu malah memperingati kematian seorang pendeta. Hmmm... masuk akal. Mengingat sejarah Valentine memang dramatis. Dulu ada seorang pendeta yang bernama Valentino yang sering menikahkan pasangan-pasangan. Dari sumber yang saya baca, di zaman itu menikah itu agak tabu jadi pendeta itu sempat dipenjara karenanya. Sewaktu dia meninggal, banyak orang yang merasa dia berjasa membawa cokelat dan bunga. Dan jadilah hari Valentine yang diperingati setiap 14 Februari.

Saya jadi tidak terlalu 'ngeh' dengan hari Valentine. Namun, jika ada teman saya yang memberi cokelat, ya sudah saya terima. Hoho.. Memang terdengar curang. Saya tidak memberi, tetapi saya menerima cokelat. But I have a reason, guys. Mending saya terima kan, daripada saya tolak dan orang itu kecewa. Ah, anggap saja dia memang mau memberi saya cokelat. Hihihihi...

Valentine kemarin juga begitu. Malah mungkin agak buruk juga bagi saya. Kenapa? Saya berada di lingkungan baru lagi. Di lingkungan ini benar-benar muda untuk menjelaskannya.

Ada seorang teman saya (anggap saja dia bernama Lala) ingin memberi cokelat kepada teman saya yang satunya (anggap saja dia bernama Peter). Sebenarnya saya suka Peter dan pasti nggak mungkin dong kalau saya bilang ke Lala. Ah, ya sudahlah. Tak apa. Setiap orang punya hak untuk menyukai orang lain.

Tapi walaupun saya berkata seperti itu, salah satu bagian dari diri saya berkata lain. "Ayooo, Nggi... Kamu juga harus kasih cokelat..." Dengan kondisi yang berbeda dengan si Lala, maksud saya dia bisa dengan mudah minta uang kepada orang tuanya untuk beli cokelat sedangkan saya tidak, sulit untuk beli cokelat. Apalagi saya tetap tidak mau merayakan kematian seseorang. Sekali lagi saya belajar untuk mempertahankan pendirian.

Tapi suatu hari sahabat saya berkata,

jangan sedih, nggi. walopun cewek2 lain bisa ngasih cokelat, belum tentu mereka bisa ngedapetin perasaan cowok itu.. ya kan?

Aha! Itu benar.
Dan seolah saya dapat tamparan untuk kedua kalinya, kali ini kata-kata dari guru les saya. Waktu itu beliau memberi saya cokelat dan berkata, "ini bukan karena Valentine, ini karena saya sayang kalian."

Saya jadi merasa menjadi orang yang bodoh. Untuk apa saya memikirkan Valentine = cokelat? Padahal sebelumnya pemikiran saya sudah bagus. Secara spontan saya langsung kepikiran ibu saya, ayah, adik, dan sahabat-sahabat saya. Hmmm...

Akhirnya saya mengerti. Bukan hanya sekadar mengerti Valentine = hari kasih sayang, tetapi saya jadi sadar kalau orang-orang di sekitar saya sangat menyayangi saya.

And it's not about valentine, it's about the way i love you...


tidak tahu mengapa ibu saya ingin agar saya mengganti sprei saya menjadi warna pink. hahaha.

Dan saya tidak tahu, malamnya om saya memberi saya amplop. Ini bagian dari angpao atau tidak saya juga tidak tahu. Yang jelas itu ada isinya (ya iyalah). Tapi kok saya merasa ini terlalu banyak ya?

Ketika saya bertanya dalam rangka apa om saya memberi angpao, om saya hanya bilang, "Ini berkah dari Tuhan". Aduuh, kalau sudah menyangkut berkah dari Tuhan, saya sudah tidak bisa bicara lagi. Takut menyinggung orang yang berbeda agama. Hihihi...

The Best Skilled Surgeon, dokter anak kayak anak-anak!

Sabtu, 09 Januari 2010

Dari dulu (tepatnya kapan, lupa) saya pengen jadi dokter. Ya walaupun pernah diselingi pengen jadi polisi, guru, dll, but I still choose doctor then. Pernah juga dibilangin ayah kalau jadi dokter itu repot, biayanya mahal, harus pinter sosialisasi juga, aahhhh.... banyaklah.

Yang dibilang ayah saya ada benernya juga sih. Tapi....

One day, saya membaca sebuah komik yang bagian belakangnya ada iklan komik lainnya. Judulnya pasti sudah tahu dong? (orang jadi judul postingan juga). Yap, The Best Skilled Surgeon karangan Irie Kenzo dan Hashiguchi Takashi. Ih, kayaknya bagus. Akhinya saya kesampaian untuk membacanya juga (walaupun minjem sih).



Ceritanya bagus. Mmmm.... Kalau saya bilang sih, sedikit mirip baca buku Biologi (gimana nggak mirip kalau ada gambar jatung, paru-paru, dan sebangsanya) tapi nyenengin. Unsur 'nyebelin'-nya jadi nggak kelihatan. Di situ sedikit dijelaskan tentang pekerjaan dokter bedah, bagian jantung, penyakit, dan kode-kode kedokteran. Hoooo.... Hebat.....

Jadi ceritanya begini. Ada seorang anak laki-laki bernama Mikoto Saijo yang waktu kecil sudah menjalani operasi pembenahan pembuluh darah. Dia berpikir kalau dokter bedah yang mengoperasinya waktu itu hebat karena bisa membenahi pembuluh darahnya secara sempurna dalam waktu singkat. Mikoto menjadi termotivasi untuk bisa menjadi seperti dokter itu, bahkan menjadi lebih baik.

Di situ juga diceritakan kalau Mikoto dekat dengan dokter tempat dia check up. Dan yang membuat saya jadi semakin termotivasi adalah motivasi dari dokter ini. Dia bilang kalau kita menyelamatkan nyawa seseorang, berarti kita juga menyelamatkan orang-orang yang ada di sekitar orang tersebut. Nggak ngerti? Oke, saya kasih contoh. Katakanlah saya dokter. Saya berhasil mengobati pasien saya yang kritis. Nah, ternyata pasien itu juga jadi dokter dan dia menyelamatkan orang lain lagi. Nah, berarti saya juga menyelamatkan orang yang dia selamatkan. Yang begitu itu disebut "diagram pohon tak terbatas".

Bagus kan?

Tapi jangan berpikir kalau komik ini isinya cuma dokter semua. Ada lucunya juga kok. Kocak banget malah. Kan ceritanya Mikoto ini kekanak-kanakan banget. Apalagi dia spesialis bedah anak. Tambah anak-anak dong. Saya sampai ngakak bacanya. Hehehehe.

Apa? Postingan saya nggak bagus?
Ya maklum, masih dalam keadaan yang bisa dibilang 'bad'. Aaaahh... Tapi kalau saya sampai bela-belain ngepost ini di keadaan 'bad' ini, Anda pasti tahu gimana sebenarnya The Best Skilled Surgeon.
 

2009 ·Semanggi 4 Jari by TNB